Breaking News
Home > Cerpen Cinta > Ada Rasa Dalam Diam

Ada Rasa Dalam Diam

Seperti biasa aku pagi-pagi berangkat sekolah dengan menggendong tasku. Aku bersemangat menjalani hari-hari aku di sekolah yang penuh canda tawa. Berangkat dengan menggunakan mobil angkot yang sudah terbiasa sumpek dan gerah, seakan semangatku pun perlahan mulai pudar, telah sampai aku di sekolah tercinta dan terlihat teman-temanku sudah memasuki ruangan kelas.

Perasaan takut aku melanda pikiran karena semua orang telah memasuki ruangan kelas, aku pun berlari tanpa melihat sekeliling.

“Brakk” Seorang cowo berlari dan menabrak aku.

“Eh, punya mata gak sih lo?” Bentak aku pagi-pagi dibikin kesal.

“Eh, elo juga ngehalangin jalan gue”. Balas cowo itu, yang tak lain dia adalah musuh yang selalu membuat gara-gara dalam hidup aku. Entah dari mana dia berasal, pokoknya dia selalu bikin aku kesal dengan semua kenakalannya.

“Awas gue mau masuk kelas.” Aku mendorongnya lumayan buat mundur dua langkah.

Setelah sampai di depan kelas, aku sama cowo tadi yang bernama Rehan memasuki kelas secara mengendap, dikarenakan guru jam pertama telah ada di kelas.

“Kalian berdua.” Suara guru yang bernada keras menghentikan langkah perlahan.

“E… E… Eh, Ibu… Apa Bu?” Tanyaku gugup bercampur takut.

Guru itu langsung menjewer terlingku dan teling Rehan dan menyuruh kita berdiri di depan bendera. Sungguh kesal dibuat.

“semua gara-gara lo, tau!” Ucapku, menyalahkan Rehan.

“What? Maksud lo? Lo aja kali yang tidur kelamaan, dasar kebo. Makannya lo kesiangan.”

Perkataannya membuatku semakin marah. Kami terus saling menyalahkan satu-sama lain.

***

Telah lama aku memendam rasa yang membuat ku begitu sangat tersiksa, entah apa yang harus kulakukan. Terkadang aku ingin sekali mengutarakan perasaanku padanya. Aku tahu, kalau aku hanya sahabatnya, tapi terkadang hati ini selalu ingin memilikinya lebih dari sekedar sahabat.

Aku sadar, aku tahu bahwa aku bukan yang dia inginkan.

Suatu saat, aku berjalan di tepi sungai dekat dengan sekolah ku.

“Eh, Kau, lagi apa?” Tanya Rehan menepuk punggungku, dan menemaniku berjalan keliling.

“Aku lagi cari angin aja si. Kamu?” Tanyaku balik.

“Aku juga sama, abis di kelas ngebosenin si, makanya aku kesini. Eh tau-taunya ada kamu.”

“Oh, gitu yah, yaudah duduk disana yu?” Ajak ku untuk berdiam duduk di bawah pohon rindang di kursi yang telah tersedia. Aku malu dekatnya, karena masih memendam rasa sekian lama.

“Kamu tau, makin sini kamu makin cantik?” Gombal Rehan sambil memegang tanganku.

“Ih… Kamu, apaan si, gombal banget. Belajar gombal dari siapa tuh?” Tanyaku tersipu malu.

“Aku gak belajar dari siapa-siapa kok, cuma ada seseorang yang membuat aku kaya gini.” Jelasnya padaku yang membuat tanda tanya besar.

“Oh ya? Siapa tuh?” Tanyaku penasaran.

“Yang nanya.” Jawabnya simple.

“Maksudmu aku?” aku coba menebak apa dan siapa yang dia maksud.

“Gak tau sih, kamu tau gak? Siapa dia?” Tanyanya membuatku semakin deg-degan.

“Ya aku gak tau, makanya aku nanya.”

“Jawabannya adalah kamu.”

“Aku?” Aku merasa diriku yang dia maksud.

“Iya kamu.” Aku senang bercampur malu mendengarnya. Aku dibuat salting olehnya. Entah apa yang kurasa, aku sangat ingin terbang tinggi ke awan, setelah mendengar semua itu dari dia langsung.

Aku sangat bahagia sekali, bagaimana ku tak bahagia, orang yang selama ini diinginkan, seakrang mempunyai perasaan yang sama denganku. Perasaan yang ku pendam selama ini, tidak sia-sia begitu saja. Penantian yang panjang, menjadi saksi cinta yang diinginkan.

“Kau tau? Dari awal menyukaimu, meskipun terkadang aku marah padamu.” Ujar aku menahan malu.

“Mafin aku yang sayang. Eh… Maaf keceplosan.”

“Eh, jadian aja belum kamu udah manggil, sayang aja.”

“Maksudmu belum? Hmm rupanya kamu…?” Aku langsung mencubitnya karena tersipu malu.

“Ih… apa si, kamu gitu, gak ah aku malu tau.” Ucapku dengan salah tingkah.

Aku tersenyum menundukkan kepalaku dengan rasa malu dan bahagia tiada tara. Rehan mencubit hidungku dan tersenyum.

“Eh, pesek ya kamu.”

“Biar pesek tapi ngangenin kan?” Ujar aku sambil ketawa.

“Hey pesek, kamu suka aku, dan aku…”

“Iya dan kamu maukan jadi teman hidupku, maksud ku pacar gitu.”

“Gak lah, gak mau.”

“Emm… Yaudah terserah kamu, kalo kamu gak mau.”

“Eh… Siapa bilang gak mau? Aku kan belum selesai ngomong. Maksudku, aku gak bisa nolak kamu.”

Aku menerima cintanya dan langsung menutup wajahku karena malu. Rehan mambuka tanganku yang menutupi wajahku. Aku dan Rehan segera beranjak dari tempat duduk dan langsung meninggalkan tempat duduk itu. Setelah kita berpacaran, kami sering pulang bareng berdua. Meskipun aku masih malu-malu. Tapi terkadang kita juga membahas masa-masa saat dulu masih bermusuhan. Aku gak percaya awalnya dengan asalnya permusuhan bisa menjadi cinta yang nyata dibelakangnya.

(Visited 18 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Syifa Mawadah Elpasya Symes

"Hallo Guys! Namaku Syifa Mawadah Elfasya. Aku Kelas X Jurusan TPHP. Aku tinggal di Cianjur loh. Aku sangat suka menjadi Penulis dengan sedikit kemampuanku ini.

Check Also

Indahnya Masa Sekolah

Nama ku Dinda Sari, ya teman-temanku selalu memanggilku Sari, dan ada juga yang iseng memanggilku …

Say Good Bye

Disaat sang fajar telah tiba, embun yang tertegun di atas dedaunan yang tampak segar, udara …

Berharap Lebih Menyakitkan

Terlihat seseorang yang tengah berjalan disebrang jalan sana. “siap dia? Melihatnya aku tak mau memalingkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *