Breaking News
Home > Cerpen Kehidupan > Bukan Lagi Benci

Bukan Lagi Benci

Aku tidak menginginkan rindu, tapi dia hadir memaksa masuk meyeruak kedalam kalbu. Tanpa memberi kesempatan untukku mencegahnya. Padangan mataku nanar menatap rindangnya pepohonan yang menghiasi pagar stadion kecil dibelakang asrama yang kutinggali. Dari ketinggian lantai tiga aku mampu menyapu hal-hal yang jauh diujung sana. Setidaknya hal itu cukup menghiburku disaat aku sendiri, melihat mereka semua bahagia menyambut kedatangan keluarga mereka didepan pintu. Hari ini adalah hari kunjungan masal. Satu persatu mobil-mobil yang penuh orang didalamnya memasuki gerbang masuk. Membawa sejuta rindu yang menunggu untuk diungkapkan dengan sekadar pelukan. Ada yang menangis haru juga ada yang tersenyum lebar. Macam-macam ekspresi kebahagiaan terpancar. Sedangkan aku hanya meringkuh di belakang ruangan ini. dibalik jendela abu-abu. Meratapi nasib, menyadari aku tidak akan bisa seperti mereka. Mendapat pelukan hangat, belaian lembut penuh kasih sayang. Itu hanya illusi, sekali lagi.

Aku sempat berfikir, menyalahkan takdir Tuhan yang menurutku tak adil.Tak hanya saat ini saja, sejak seorang Maira gadis kecil berumur dua tahun yang tak tau apa-apa harus merasakan dampak dari perpisahan orang tuanya. Tak menyadari apa yang terjadi hingga akhirnya suatu hari ada seorang laki-laki asing yang mengajaknya pergi usai pulang sekolah dari Taman Kanak-Kanak yang tak jauh dari orang tuanya. Lengkap dengan tas merah muda di pundaknya dia berjalan mengikuti arah laki-laki yang menarik lengannya, perlahan. Merasa ada yang aneh akhirnya menangislah dia.

“Lepaskan, saya tidak tau kamu siapa” rengek gadis itu

“Nanti Mai bilang ke ibuk Mai ada Om jahat”

Tiba-tiba laki-laki itu berhenti berbalik dan jongkok menghadap Maira

“Maira…..” tatapanya berkaca-kaca “Saya ini ayah kamu”

Tak memahami apa yang dikatakan pria itu, dia semakin menangis mengusap matanya hingga bedak putih yang menempel diwajahnya perlahan luntur.

“Bukan, kata ibuk ayah Mai udah gak ada. Dia udah ninggalin Mai dan Ibuk”

Pria itu menggeleng. Mungkin menyadari kesalahannya di masa lalu. Menyadari konsekuensi atas egonya kala itu. Dia meninggalkan seorang yang rela mendampingi dan menyerahkan seluruh jiwa untuknya, juga memberinya seorang putri cantik demi seorang perempuan lain yang sekarang tak tau rimbanya.

“Maira” seroang perempuan berlari kencang menuju arah mereka berdua.

“Pergi kamu…” dia menggendong Maira dan meninggalkan pria itu seraya berkata

“Jika kamu bertemu dengan orang itu lagi, sebaiknya kamu lari saja” Maira mengangguk

Perempuan itu hanya seorang buruh di sebuah pabrik, untuk menghidupi anak semata wayangnya dia rela banting tulang melupakan penat. Bajunya yang lusuh tak lagi diperdulikannya. Namun entah mengapa untungada seorang tetangganya yang berkecukupan bersedia menanggung biaya sekolah Maira. “Aku akan melupakan jasa tetangganya sampai kapanpun” ucap ibu Maira kala itu.

Melihat kejadian tadi, masih nampak kebencian dan dendam di sudut matanya. Luka yang sudah terkubur seakan digali kembali, bahkan menimbulkan rasa sakit yang lebih.

Suara deritan pintu membuyarkan lamunanku atas nasibku sendiri. ya akulah gadis dua tahun itu, gadis yang tak tahu apa-apa, gadis beransel merah muda, gadis yang merengek saat itu. Ya aku Maira. Hingga saat ini tak ada kata lain untukku menggambarkan laki-laki itu selain kebencian. Seorang yang tak pantas disebut ayah itu seakan lupa bahwa ada aku darah dagingnya disini. Entah bagaimana kabarnya aku tak perduli. Tuhan telah memanggil ibukku setahun lalu. Dan aku merasa bahwa Tuhan benar-benar tidak adil. Untung saja Pak Dani dan istrinya, tetanggaku itu masih berbaik hati membiayaiku sampai aku duduk di semeseter dua bangku kuliah.

“Maira, kamu disuruh menemui pengurus di kantor. Ada yang penting katanya” kata Nurin teman sekamarku.

“Baik” Aku mengangguk dan bertanya-tanya dalam hati ‘Mengapa?’

Saat turun dari dan sampi di Lobby asrama nampak seorang pria berbaju batik dan perempuan berjilbab putih berdiri disana. Di depan pengurus asrama.

“Mai, kamu harus pulang” katanya

“Loh, memangnya ada apa pak Dani?”

“Ayahmu sakit keras dan ingin bertemu denganmu sekarang. “

“Ayah? Bapak bilang ayah? Maaf pak Maira sudah tidak punya ayah”

“Cukup Mai, sudahi kebencianmu itu” sahut istri Pak Dani

“Cuku apa bu, ibu tidak tau apa yang saya rasakan”

“Asal kamu tau ya Maira, ayahmu memang salah. Tapi setidakna dia mau bertanggung jawab aas kesalahannya”

“Tanggung jawab apa?” kini nadaku sedikit tinggi

“Dia yang membiayaimu selama ini, dia menitipkannya pada kami. Karena dia sadar jika kalian tau kalian tidak akan menerimanya” aku terhenyak

“Benarkah?” tanyaku, pak Dani mengangguk Segera kukemasi barangku dan ikut bersama mereka. Mungkin kebencianku selama ini menutupi mata hatiku. Setiap manusia pasti pernah khilaf. Begitupun ayahku.

(Visited 37 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Najmul Almi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *