Breaking News
Home > Cerpen Cinta > Bunga (Perawan) Part 05

Bunga (Perawan) Part 05

Lulus Moderasi: 14 Desember 2016

Aku menggenggam erat tangan Melati yang terasa dingin di tanganku.”Kita akan baik-baik saja, Mel. Kamu jangan khawatir.” ucapku sambil tersenyum lembut berusaha menenangkannya.

Aku menelan ludah susah payah. Sebenarnya aku pun amat sangat takut. Pintu kayu rumah orang tuaku yang kini ada di depanku, rasanya bagaikan pintu neraka bagiku. Mengerikan. Tapi aku harus berfikir tenang, jangan sampai rasa takutku membuat gadis yang kucintai jadi ragu untuk melangkah.

Aku mengetuk pintu kayu megah itu dengan cukup keras. Tak lama berselang, pintu terbuka pelan menampilkan kakak tertuaku, Mas Andaka yang terlihat terperangah melihat kami.

“Wow! Jadi juga kamu bawa gadis ini ke rumah.” celetuk kakakku sekenanya.

Melati menunduk gugup di sebelahku. Aku melotot kesal ke arah kakakku yang kadang rajin bertingkah menyebalkn itu. Mas Andaka malah terkekeh puas di depanku. Sial!

“Bawa dia masuk! Ayah sama Bunda ada di dalam.”

***

Kami duduk dengan gelisah di depan keluargaku yang duduk berderet bak hakim sidang.

“Jelaskan siapa kamu, nak!” Ayahku tiba-tiba berucap dengan nada tegas sambil menatap lurus ke arah Melati yang tengah menunduk takut di sebelahku.

“Ayah, ini Melati. Azka kan udah pernah…”

“Ayah tanya gadismu, nak. Kenapa kamu yang jawab? Dia itu wanita dewasa, biarkan dia bersikap seharusnya. Jangan terus kamu lindungi.” Ayahku memotong ucapanku dengan tegas.

“Saya… Melati, Pak. Saya yatim piatu, usia saya 20 tahun” jawab Melati pelan dan takut-takut.”

Ayahku tak berkata apa-apa, beliau hanya menatap Melati dengan tajam.

“Menurutmu Melati, perempuan seperti apa yang layak untuk pria seperti putra bungsuku, Azka?” tanya Ayahku.

Deg!

‘Ya Tuhan… ‘

Hatiku mencelos kecewa mendengar pertanyaan bermakna ganda dari ayahku untuk Melati. Pertanyaan yang mungkin juga sebagai isyarat untuk mengingatkan kalau Melati di anggap bukan perempuan pantas untukku.

“Dokter Azka pantas untuk perempuan yang baik, pintar, dan cantik, Pak. Karena dokter sendiri orang yang sangat luar biasa baik bagi saya.” jawab Melati dengan suara bergetar.

Aku memejamkan mata. Pasti Melati merasa sangat terluka karena pertanyaan tadi.

“Ayah, Azka cinta Melati. Bukan perempuan lain.” ucapku memelas.

Ayahku menghela nafas panjang mendengar ucpanku. Aku tahu, sekarang aku sudah bertindak layaknya bocah remaja yang tengah merajuk pada orang tuanya. Tapi aku tak peduli, ketakutan akan penolakan keras keluargaku pada Melati membuatku cukup hilang akal.

 “Melati, apa kamu juga cinta pada Azka?” Bundaku yang sejak tadi diam akhirnya turut angkat bicara.

Melati mengangguk dengan yakin. “Sangat, bu. Saya yakin saya  mencintai dokter Azka.” Jawab Melati jujur. Aku tersenyum lembut padanya.

 “Tapi adikku akan dapat istri seorang wanita bekas orang lain, bukan?” Mas Andaka berucap datar,  membuat semua orang terperangah dan berpaling kearahnya.

Amarahku tersulut sampai ke ubun-ubun. Aku tahu kakak tertuaku itu punya sifat menyebalkan di atas rata-rata. Tapi, dengan kecerdasannya yang luar biasa itu, aku sangat kecewa saat dia mengatakan hal yang dangkal seperti itu.

“Ya… Saya memang bukan gadis suci. Tapi Tuhan sangat tahu, kalau hati saya tak pernah tersentuh pria manapun sebelumnya. Hanya dokter Azka. Dan ya, saya sudah di jamah orang dengan paksa. Tapi bukan berarti saya orang yang  pasrah oleh keadaan, dulu saya melawan hingga tak takut membunuh dan dibunuh demi menjaga diri saya.”

Melati menarik nafas panjang seperti berusaha menenangkan hatinya. “Sekarang pun begitu, saya akan melawan. Saya juga punya hak yang sama dengan anda, saya ingin punya masa depan. Dan saya sudah memilih dokter Azka sebagai masa depan saya.” Ucap Melati dengan tegas meski dengan suara sedikit bergetar karena menahan marah dan sakit hati.

Aku terdiam. Lagi-lagi di buat kagum dan jatuh cinta oleh gadis tangguh disebelahku. Tadinya, aku fikir dia akan menangis saja saat mendengar ucapan Mas Andaka. Aku sangat terkejut melihat kaeberaniannya menjawab mas Andaka. Padahal aku pun sudah bersiap-siap untuk menyerbu kakakku itu dengan makian.

Ayahku tiba-tiba terkekeh pelan. Kami semua beralih menatap kearah beliau yang masih terlihat tersenyum geli. “Sejauh mana kamu akan berjuang demi putraku? Dengan kau kukuh seperti itu, tentu tak akan ada perempuan baik, cantik dan pintar tadi yang bisa mendekati putraku.” Kata ayahku sambil menatap Melati dengan tatapan tajam tak tergoyahkan.

Aku menahan nafas, ngilu sendiri membayangkan gejolak perasaan yang di rasakan Melati. Aku tahu hari ini Melati pasti akan di cecar banyak hal oleh mereka. Tapi saat itu benar-benar terjadi, tetap saja membuatku ingin segera menariknya keluar dari rumah ini.

 “Ayah… Azka mohon. Jangan begitu. ”Ucapku lirih. Bagaimanapun aku harus menepati janjiku untuk membuat keluargaku mengenal sendiri gadis yang kucintai.

 “Mudah. Sejauh apa anda mencegah kami, maka sampai itu juga saya akan tetap berjuang demi kami. Ya, Azka bisa kehilangan perempuan lain kalau saya kukuh, tapi saya memang mau kalau Azka hanya memilih saya. Saya juga wanita, sehat secara fisik dan mental. Sama seperti mereka.”

Kak Arimbi yang tengah bersandar dengan aggun di lengan mas Andaka terkikik. “Wow! Bukannya itu namanya kamu egois dan agak obsesif terhadap adikku?”

Melati tersentak gugup. Keyakinanya yang tadi terlihat, sedikit goyah karena ucapan kakak perempuanku. “Saya cinta Azka, mbak.Itu saja. Salahkah orang tak beruntung seperti saya punya mimpi untuk bahagia?” lirih Melati pada akhirnya.

Aku menahan geram karena kufikir keluargaku sudah sedikit keterlaluan.“ Azka cuma butuh satu wanita. Dan itu Melati. Aku sudah bilang, aku bisa saja melepas kalian demi dia.” Ucapku tegas.

Bundaku terkesiap. “Jangan asal bicara Azka!”

 “Azka… jangan! Aku mau berjuang sampai kapanpun kalau mereka menolak kita, tapi aku akan langsung mundur saat kamu memilih aku di banding keluarga kamu.” Ucap Melati sambil menatapku tajam.

Aku tersentak tak percaya mendengarnya. ”Kamu gak akan bisa, Mel. Kamu cinta aku.” Tekanku padanya.

 “Aku memang sangat cinta sama kamu. Tapi yang aku putuskan tadi juga demi kebaikan kamu. Aku yatim piatu, aku tahu dengan pasti bagaimana rasanya hidup tanpa keluarga. Dan itu gak akan aku biarkan terjadi sama kamu, meski untuk alasan papun.”

Aku menganga mendengarnya. Sekarang, yang kulihat adalah seorang Melati yang rela membunuh demi berjuang dulu, bukan Melati si tukang bersih-bersih di puskesmas yang pendiam dan pemalu yang kutemui tiap hari.

Aku terpukau jatuh cinta lagi dan lagi karena gadis ini. Aku menatapnya dengan luapan cinta yang hampir tak tertampung di hatiku. Aku yakin, aku bisa gila kalau dia tak bisa kumiliki.

Ayahku tertawa. “Tuh,, nak! Dengarkan calon istrimu!”

Aku tersentak dan reflek berbalik ke ayahku. Aku tergagap, mulutku rasanya kelu karena menahan perasaan haru yang menyumbat di tenggorokanku.

“Ayah?” akhirnya suaraku keluar berupa cicitan konyol dan sontak membuat Mas Andaka yang selalu usil tertawa terbahak-bahak.

“Speechless dia!” ledek Mas Andaka  dengan cengiran yang menyebalkan.

Bundaku tersenyum kecil sambil masih menatap Melati meski tidak dengan tatapan sesangar tadi.

“Jadi, kapan kamu akan menikahi Bunga Melati kesayanganmu itu?” Tanya Ayahku sambil sedikit menggoda.

Aku terperangah, masih tak percaya dengan keputusan keluargaku. Melati di sebelahku terdengar terisak kecil. Aku tahu gadisku sedang menangis bahagia.

Aku tersenyum dengan mata berkaca-kaca. “Kami akan menikah, secepatnya!” ucapku lantang, dengan dada membuncah bahagia.

***

“Pagi cantik!”

Aku mengangkat alisku kesal kearah kakakku. “Jangan godain istri orang, mas! Dosa!” protesku.

Mas Andaka terkekeh puas. “Haha… pawangmu ngadat tuh, Mel!”

Melati terkikik di sebelahku sambil menggigit apel merah di tangannya. “Jangan marah, sayang. Mas Andaka kan memang dari sananya iseng. Masa kamu lupa.” Kata Melati sambil mengusap lembut tanganku.

Aku tersenyum lembut ke arahnya. “Gak sayang, aku gak marah lho. Cuma pengen banting dia dari balkon aja.” Ucapku sambil mendelik ke arah kakakku.

Mas Andaka terbahak puas di depanku. “Mel, kayaknya Mas tuker aja ya kamu sama si Azka. Kamu lebih manis, lebih pas buat jadi adikku.” Ledek kakakku yang menyebalkan.

“Tunggu aja, Mas. Aku sumpahin mas jatuh cinta sampai puyeng lho! Liat aja tar.” Cibirku padanya. Mas Andaka malah tertawa pelan sambil geleng-geleng kepala.

Melati tertawa renyah. “Gak, Mas. Aku gak mau Azka di tuker-tuker. Dia satu-satunya. Kalau istilah manusia sempurna itu ada, maka buatku Azka salah satu yang sempurna itu.”

Aku tersipu mendengarnya. Melati, yang kini sudah sah menjadi istriku menatapku dengan binar cinta yang begitu besar di matanya.

Aku tediam menyusun bagian-bagian kenangan pertemuan kami dari awal. Tuhan sudah menggariskan takdir yang tak terduga di hidupku. Siapa sangka, desa kecil yang ku singgahi untuk bekerja malah mempertemukanku dengan jodoh terindahku.

Jodoh berupa wanita dengan ketegaran luar biasa. Yang dengan kisah tragisnya, malah menjadikannya sosok yang istimewa.

Aku mencintainya tanpa syarat. Dengan segala kurang dan lebihnya, dia tetap yang teristimewa untukku.

Dia, Melatiku.

Part 05 — Ending.

(Visited 11 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Tia Ayu Lestari

Hobby menulis cerpen dan puisi

Check Also

Kata Cinta Pertama

“Aku cinta kamu.” Ucapku penuh perasaan pada pria tampan berkemeja abu-abu yang tengah membaca sebuah …

Simplicity

Gadis itu, selalu berdiri diam di pojokan lift setiap kali kami tak sengaja bertemu. Dia …

Fur Alice

Dua pria tampan berjas hitam berdiri mengapit seorang wanita bergaun putih dengan senyum bahagia merekah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *