Breaking News
Home > Cerpen Cinta > Fur Alice

Fur Alice

Dua pria tampan berjas hitam berdiri mengapit seorang wanita bergaun putih dengan senyum bahagia merekah di wajahnya. Wanita itu tampak tersenyum mengagumi gaun putih mengembang yang tampak melekat di tubuhnya.  Dia memejamkan mata, lalu meyandarkan kepalanya dengan manja pada pria tampan di sisi kirinya yang tampak menatapnya lembut dari cermin di depan mereka.

 “Kamu cantik.” Puji pria di sebelah kiri itu sambil terus menatapnya lekat penuh cinta.

Si wanita tersenyum malu-malu, lalu menoleh ke arah pria lain di sisi kanan tubuhnya.

 “Andre bener, kamu cantik banget, Alice.”ucap pria itu dengan senyum yang juga sama lembutnya.

Si wanita bernama Alice itu tersenyum semakin cerah mendengar pendapat dua pria terpenting di hidupnya itu. Dengan wajah merona bahagia, dia berbalik sepenuhnya kearah pria bernama Andre dan membelakangi si pria yang lainnya.

 “Kapan di matamu aku jelek, Andre? Aku bangun tidur aja kamu bilang kayak dewi fajar.” Goda wanita itu dengan seringai geli di wajahnya.

Andre tersenyum kecil lalu menatapnya dengan mata berlimpah cinta yang tak bisa di tutup-tutupi. Dia mengulurkan tangannya merapikan untaian rambut halus di wajah wanita bergaun pengantin di hadapannya.

 “Kamu sempurna, sayang.” Ucap pria bernama Andre itu dengan tulus.

Alice tersenyum malu, lalu menyurukkan kepalanya ke dada Andre dan memeluk pria itu dengan mata terpejam bahagia.

Andre sedikit tersentak merasakan pelukan tiba-tiba dari gadis pujaannya. Dia lantas menoleh pada pria berjas lain yang kini menatap mereka berdua dengan sendu. Pria di depannya itu lalu tersenyum kecil sambil diam-diam mengusap punggung gadis yang sama-sama di cintainya itu dengan lembut.

Alice melepaskan pelukannya saat merasakan sentuhan kecil di punggungnya. Wanita itu lalu menoleh lagi kearah pria lain yang tadi di punggunginya.

 “Jangan sirik gitu, Dani.” Ucap Alice sambil terkekeh pelan.

Pria bernama Dani itu menyunggingkan senyum tipis. Dia lalu mengulurkan tangannya yang langsung di sambut dengan manja oleh wanita cantik di depannya.

 “Dansa pertamanya sama gue, Dan. Gak ada nego lagi.” Ucap Andre tiba-tiba.

Dani mengerang pelan sambil memasang wajah merajuk.

 “Jangan serakah, Ndre. Dia bakalan sama lo nanti.” Protes Dani kesal.

Alice terkikik geli melihat dua pria tampan di depannya berdebat memperebutkannya. Dengan senyum penuh sayang, wanita itu akhirnya merangkul kembali Andre dan menyandarkan kepalanya ke dada pria itu.

Andre melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu sambil memejamkan matanya dengan sendu. Senyum tipis terukir di wajahnya yang bergurat tegas dan tampan. Tangannya gemetar saat mengeratkan pelukan pada wanita terpenting di hidupnya itu.

Dani menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi perih yang tampak jelas. Dia tak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu bukan miliknya saat ini. Dia memalingkan wajahnya kearah cermin besar yang menampakkan sosok mereka bertiga yang rumit.

Andre mennudukkan kepalanya, lalu mengecup ujung rambut gadis dengan rambut di hias mawar putih dalam dekapannya itu. Hatinya membuncah oleh perasaan tak percaya dan tak berdaya. Dia lalu mendongak kearah Dani yang kini tampak terdiam dengan wajah tersiksa. Andre meringis lalu terkekeh sumbang.

 “Sorry lo harus liat ini.” Ucap Andre tampak sendu.

Dani hanya melempar senyum tipis kearah pasangan di depannya. Dia tak bisa apa-apa. Selalu. Cinta mereka terjebak di lingkaran pelik sejak usia mereka belasan tahun. Dan ketiganya tahu, saat sepasang dari mereka bahagia maka yang lainnya akan ada di posisi yang tersiksa.

Alice menegakkan tubuhnya dan memandang lagi kearah cermin di depannya. Wanita itu tersenyum perih, matanya berkaca-kaca dengan desahan napas yang sedikit cepat. Dia mengulurkan tangannya yang berbalut sarung tangan putih kearah tiga bayangan yang kini tampak berdiri mematung dengan wajah tersiksa yang serupa.

Alice memandang pantulan dirinya yang berbalut gaun pengantin yang merekah indah. Cantik. Gaun ini persis yang di inginkannya sejak dulu. Dia bercerita pada dua sahabatnya, dan kini keduanya benar-benar mewujudkan gaun impiannya dengan detil.

Wanita itu terisak haru dan sakit. Bayangannya kini tampak menangis tergugu dengan dua ksatria tampan yang sama-sama meletakkan tangan mereka di atas bahunya.

 “I Love you…” ucapnya pada dua prianya yang kini mendekapnya di kedua sisi.

Dua prianya tersenyum dengan gurat kesakitan yang menyesakkan.

Dani tersenyum lembut sambil mengusap rambut wanitanya dengan gemetar.

Andre memejamkan matanya lalu mengecup kening wanita yang di cintainya dengan penuh perasaan.

Ketiganya terdiam, menyesali bayangan mereka di pantulan cermin. Dua orang pria yang sama mendekap satu pengantin wanita.

***

Dani memandang sendu kearah pasangan yang berjalan melintasi ballroom hotel tempat resepsi mewah yang harus di hadirinya. Wanita bergaun putih di gandengan pria tampan yang dilihatnya tampak mengumbar senyum bahagia.  Si pria tampak beberapa kali berbisik dan membuat wanita itu tersenyum makin lebar. Dani tersenyum miris dan berusaha meneangkan hatinya yang cukup kacau.

Tatapan matanya akhirnya bertemu dengan pria yang menggandeng pengantin wanita itu. Kedua pria itu saling tersenyum tipis. Terus saling menatap dengan luka yang terpaksa saling mereka torehkan di antara keduanya. Yang satu akan melepaskan, dan yang satu akan melihat yang lainnya tersiksa kerena kemenangannya.

Pasangan pengantin itu berjalan mendekat kearahnya. Dani tersenyum tipis, lalu mendekat kearah mereka.

Andre balas tersenyum padanya. Dengan mata meredup, dia melepas tangannya dari wanita yang sejak tadi di gandengnya. Ketiganya menunduk tak berdaya.

“Aku lepas kamu, Alice.” Ucap Andre lirih.

Alice menatapnya dengan penuh sayang. Dia mengusap pipi sahabatnya itu dengan wajah berurai air mata.

“Aku selalu sayang kamu, Andre.” Ucapnya dengan suara bergetar hebat.

Andre tersenyum dan mengangguk tulus. Matanya memerah menahan luapan rasa sakit yang berperang dengan rasa bahagia. Hari ini adalah hari bahagia bagi dua sahabatnya seumur hidup, sekaligus jadi hari kehancuran bagi hatinya sendiri.

Dia dan sahabatnya mencintai perempuan yang sama sejak waktu yang lama. Dan pilihan sudah di jatuhkan, gadisnya menyambut cinta sahabatnya. Membuatnya harus mengalah tanpa ingin melawan.

Andre tersenyum lebar, lalu merentangkan tangannya sambil menatap dua sahabatnya yang kini telah bersama dan mungkin kelak bahagia tanpa dirinya.

Sepasang pengantin itu sama-sama terisak dalam diam, lalu keduanya  menghambur memeluk sahabat terbaik mereka yang telah berkorban dengan keikhlasan luara biasa untuk mereka. 

Ketiganya semakin erat–bersama dalam tangis teredam di hari bahagia itu, saling merangkul tanpa ada satupun yang meninggalkan.

Andre tersenyum tulus.

“Kalian harus bahagia. Lakukan itu buatku.” Ucapnya dengan suara bergetar dalam kesakitan.

End. ***

(Visited 13 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Tia Ayu Lestari

Hobby menulis cerpen dan puisi

Check Also

Kata Cinta Pertama

“Aku cinta kamu.” Ucapku penuh perasaan pada pria tampan berkemeja abu-abu yang tengah membaca sebuah …

Simplicity

Gadis itu, selalu berdiri diam di pojokan lift setiap kali kami tak sengaja bertemu. Dia …

Killing Zone

“Pagi cantik!” sapaan rutin pagi hariku terdengar dengan merdu di telingaku. Aku tersenyum lembut kearah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *