Breaking News
Home > Cerpen Cinta > Hubungan Abang dan Adik

Hubungan Abang dan Adik

Leni sedang jatuh cinta.

Ia jatuh cinta pada teman abangnya yang merupakan salah satu tetangga mereka. Nama laki-laki itu adalah Rendi. Di mata Leni, Rendi adalah sosok yang tampan, dewasa, dan baik. Kenyataan bahwa Rendi adalah orang yang rajin sholat di mushola dan aktif kegiatan pengajian membuatnya menjadi urutan pertama dalam daftar The Most Wanted Man dalam benak Leni mengungguli aktor dan idola kesukaannya.

Melihat hubungan mereka sebagai tetangga, Rendi selalu memperlakukan Leni dengan baik. Walaupun Rendi adalah seorang pecinta mushola, ia tidak bersikap canggung saat berinteraksi dengan Leni seperti kebanyakan ikhwan lainnya. Rendi dengan nyamannya mengobrol dan bercanda dengan Leni. Jika tidak sengaja bertemu di jalan, Rendi tidak sungkan-sungkan menawarkan Leni untuk naik ke motornya dan nantinya Leni akan diantar pulang, atau ke warung, atau ke manapun tujuan Leni saat itu. Rendi juga sesekali mentraktir Leni, baik itu es kelapa, bakso Bang Ujang kesukaan Leni, dan bahkan Rendi pernah memberikan tas yang merupakan incaran Leni untuk hadiah ulang tahun.

Tidak ada keraguan bahwa Rendi peduli dan perhatian pada Leni. Satu-satunya hal yang membebani hati Leni adalah kenyataan bahwa Rendi  pernah terang-terangan mengatakan bahwa ia menyayangi Leni…

…. Seperti adik sendiri.

Abang kandung Leni, yang biasa disapa Mas Dimas, entah kenapa sama sekali tidak mendukung adiknya.

“Len, kamu itu masih kecil, belum waktunya suka-sukaan.”

Sadarlah, mas. Leni sudah kuliah, bukan anak kecil lagi.

 “Rendi terlalu tua untuk kamu. Kalau kamu mau cari cowok, lebih baik yang sebaya denganmu.”

Rendi hanya 5 tahun lebih tua dari Leni, sebaya dengan mas Dimas. Ayah 7 tahun lebih tua dari ibu, jadi 5 tahun itu tidak terlalu tua.

“Maaf, Len, tapi mas pikir kamu bukan tipenya Rendi. Rendi suka perempuan yang kalem dan dewasa.”

Leni bisa jaga mulut, kok. Leni juga bisa bersikap dewasa.

“Lupakan aja, Len. Di mata Rendi kamu hanya seorang adik.”

Leni tidak bisa membalas ucapan Dimas, tapi ia juga tidak mau melupakan begitu saja.

Sahabat Leni, Sonya, mengetahui tentang dilema Leni. Berbeda dengan Dimas, ia sepenuhnya mendukung Leni.

“Menurutku, Rendi cuma menganggapmu sebagai adik karena dia sudah mengenalmu sejak kamu masih pakai popok. Akibatnya, di matanya kamu selalu jadi anak kecil.”

“Terus aku harus bagaimana, Sonya?”

“Tentu saja kamu harus tunjukkan bahwa sekarang kamu bukan anak kecil lagi. Tunjukkan bahwa kamu itu gadis yang cantik, dan rayu dia dengan masakan kamu. The way to the man is from his stomach. Jika kamu mau mengambil hati laki-laki, mulailah dengan memberinya masakan lezat.”

“Tapi aku selalu berusaha berpenampilan cantik, Rendi mengakui bahwa aku cantik, dan ia sudah sering mencicipi kue buatanku. Masalahnya setelah itu dia bilang pasti banyak laki-laki yang nanti mengincarku dan kemungkinan  besar aku akan menikah sebelum dia! Aku tidak mau menikah sebelum dia, aku mau menikah dengan dia!”

Sonya merangkul bahu Leni.

“Sussh… tenang, sayang. Masalah ini ada jalan keluarnya, jika kamu mau berusaha.”

“Selama ini aku berusaha, Sonya. Tapi Rendi tidak bisa menatapku selain sebagai seorang adik. Kutunggu berapa lama pun, Rendi tidak akan datang padaku.”

“Kalau begitu, kamu berhenti menunggunya datang.”

Leni menatap Sonya, “Maksud kamu?”

“Jika menurutmu Rendi tidak akan pernah mengungkapkan cinta padamu, maka kau saja saja mengungkapkan perasaanmu padanya. Dengan begitu, ia akan melihat bahwa hubungan kalian memilki potensi untuk berubah dan menjadi lebih dalam lagi. Dia menganggapmu sebagai adiknya karena kamu adalah adik sahabatnya, tapi kamu bukan benar-benar adiknya. Kalian bisa bersama.”

Leni menggigit bibirnya. Apa yang Sonya katakan memang benar, tapi…

“Tapi… apa tidak akah terasa aneh jika aku yang mengungkapkan perasaanku lebih dulu?”

“Ini tahun 2017, Len. Laki-laki dan perempuan memiliki kesempatan yang sama. Jika Rendi sebaik dan sedewasa yang kamu katakan,  aku yakin ia tidak akan merasa aneh.”

Saat akhirnya Leni berhasil mengungkapkan perasaannya pada Rendi, hasilnya sesuai dengan dugaan.

“Leni, aku benar-benar berterimakasih untuk perasaanmu. Tapi aku tidak bisa menerimanya.”

“Kenapa? Apa karena aku adalah adik mas Dimas? Atau karena kau menganggapku anak kecil?”

“Bukan karena itu, Len. Bagiku kamu adalah…”

“Jangan sebut aku adikmu!” teriak Leni, ia merasakan tanda-tanda air mata tapi ia menahannya. “Aku bukan adikmu, dan aku tidak mau jadi adikmu! Bukankah kamu rajin belajar tentang agama? Menganggap seseorang sebagai adik tidak sama artinya dengan benar-benar seorang adik.  Aku bukanlah adikmu kecuali orangtua kita pernah menikah.”

“…. Atau sumber ASI yang sama.” Kata Rendi pelan.

Leni berkedip bingung. “Apa?”

“Saudara sepersusuan,” kata Rendi, “Saat seorang anak meminum susu ASI seorang wanita, maka hubungan mereka akan menjadi ibu dan anak, meskipun wanita itu tidak menikah dengan ayah anak itu.”

“Iya. Aku tahu itu. Tapi apa hubungannya dengan…” Leni mengerutkan wajah, Rendi serius mau diskusi soal materi itu sekarang?

“Sejak dulu kondisi fisik ibuku lemah,” Kata Rendi, “Setelah aku lahir, kondisi ibu semakin melemah. Air susu beliau hanya bertahan selama 2 minggu. Dokter menyarankan untuk memberiku susu formula, tapi ibu ingin agar aku mendapatkan ASI.

Di sisi lain, ibumu dan Dimas memilki fisik yang sehat. Air ASI-nya berlimpah, bahkan melebihi yang dibutuhkan Dimas. Bu Ratna pernah bercanda, saat Dimas masih bayi ia mengganti pakaian dalamnya berkali-kali karena selalu basah oleh air ASI-nya.” Kata Rendi sambil tertawa kecil.

Tapi Leni tidak ikut tertawa. Walaupun biasanya ia suka mendengarkan kisah masa kecil Rendi dan Dimas, tapi tidak sekarang. Otak Leni menyerap ucapan-ucapan Rendi dan memunculkan kesimpulan yang membuat jantung Leni berdetak kencang. Tidak mungkin

“Bu Ratna juga orang yang sangat baik. Ia bersedia untuk membagi ASI-nya untukku. Ibuku bilang, dalam pikiran bu Ratna, ia hanya senang karena itu berarti aku dan Dimas menjadi saudara. Dia juga berpikir, karena aku dan Dimas sama-sama laki-laki, tidak akan terjadi masalah di depannya.” Rendi menghela nafas, “Tapi kenyataannya tidak begitu sekarang.”

Jantung Leni berdebar kencang, namun tubuhnya terasa lemas dan pikirannya terasa kosong. Semua ini mimpi, batin Leni. Namun seberapa besarnya keinginan Leni bahwa percakapan ini tidak terjadi, Leni tahu kenyataan tidak akan berubah. Pikirannya melayang ke wajah kakaknya. Apa mas Dimas tahu soal ini? Karena itulah dia terus menyuruhku untuk melupakan Rendi. Leni mengangkat wajahnya dan mendapati Rendi memandangnya dengan tatapan sedih. “Maafkan aku Leni. Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku. Aku sayang padamu, tapi itu karena bagiku, kamu adalah adik yang tidak bisa kudapatkan dari ibu kandungku.”

(Visited 14 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Nina Ruliana

Seseorang yang menikmati cerita dan ingin berbagi kebahagiaan kecil itu dengan orang lain.

Check Also

Simple Happiness (Bagian II)

Ini dia tempatnya! Akhirnya, akhirnya setelah perjalan belasan jam, nyasar berkali-kali, tanya jalan sampai lebih …

Simple Happiness (Bagian I)

“Tania?” Aku menoleh. Seorang gadis berparas cantik menatapku, dengan mata terkejut. Aku hampir berkata ‘siapa, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *