Breaking News
Home > Cerpen Cinta > Jadilah Teman Terbaik Ku

Jadilah Teman Terbaik Ku

Aku mempunyai nama terdekatku yang bernama Rika, dia memang agak nakal dalam bergaul, tapi dia selalu membuat hari-hari penuh canda tawa. Dia sangat memperhatikan penampilan luarnya. Ya, wajar saja, karena dia adalah salah satu cewe yang bayak dikejar oleh cowo-cowo di luar sana.

Dia itu paling suka tiap hari, tiap pulang sekolah, nongkrong dengan teman setongkrongan, dan dia juga kadang suka mengajak aku untuk menemaninya bermain setelah pulang sekolah. Tak jarang pula dia bertemu dengan pacaranya di luar sekolah. Ya sebut saja itu pacaran. Itulah keseharian dia.

Saat jam sekolah telah usai, aku berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang.

“Tunggu Ren.” Suara Rika mengejarku dari belakang.

“Apa?“ Tanyanya padaku.

“Iya, aku mau pulang ni.” Jawabku sambil melihat jam tanganku.

“Kamu, jangan pulang dulu, ikut aku yu ketemu Eza.” Ajak Rika padaku.

“Nggaklah Rik, sorry aku mau pulang, udah kamu ikut aku pulang.” Ajakku padanya untuk pulang. Tapi, Rika menolaknya dan melepas genggaman tanganku di tangannya, dan aku memegang tangan Rika, aku kaget melihatnya, aku langsung menghampiri mereka dan melepaskan tangan mereka aku langsung menamparnya keras. “Plakk.”

Wajah Angga langsung mengarah ke samping dan tampaknya dia kesakitan.

“Kau? Apa-apaan ini?” Bentak Angga padaku.

“Rena! Gue benci sama lo.” Rika memarahi ku, dan dia langsung mengajak  Angga pergi. Aku hanya diam diri dan duduk terpaku. Aku tak tahan dengan melihat sahabatku begitu.

Semenjak kejadian itu, aku tidak lagi dilirik sedikitpun olehnya, sesal tiada guna. Semua telah terjadi.

“Rik, tunggu!” Aku memanggilnya, tapi dia tidak menghiraukanku. Aku terdiam terpaku.

Suatu hari, aku melihat Angga tengah berjalan dengan seorang cewe selain Rika. Aku mengikutinya dan merekamnya sebagai bukti untuk Rika sahabatku. Tapi Rika tidak mempercayaiku, dia tetap marah padaku dan menuduhku sebagai PHO, ya penghancur hubungan orang katanya. Terasa sakit memang bermusuhan dengan sahabatku sendiri. Hari-hariku dilewati sendiri, tanpa Rika, aku kesepian.

Suatu hari, aku dan Rika pulang dengan sangat berjauhan. Matanya tajam dan sinis melihatku, langkahnya terhenti disaat dia melihat Angga bersama.

Selesainya aku menjalankan Sholat Duha, aku kembali memasuki kelas dan menghampiri Rika.

“Eh, Ren. Sini deh, tau gak? Aku ditembak loh sama kakak kelas itu, yang namanya Angga.” Jelas Rika tersenyum bahagia melihatku.

“Loh, kok kamu kaya yang gak bahagia gitu Ren?” Tanyanya padaku sambil menatapku dengan penuh tanda tanya, karena aku tidak membalas kebahagiannya.

“Gak ko, aku gapapa Rik.” Ujar aku padanya.

“Kamu? Jangan-jangan ada yang kamu sembunyikan dariku?” Tanyanya padaku membuatku bingung harus menjawab apa.

Aku hanya diam dan meninggalkannya. Entah apa yang kurasa, aku tidak suka sahabatku berlebihan dalam cinta yang salah. Setelah aku meninggalkannya terlihat dari balik pintu luar ada seorang cowo yang akan memasuki kelasku, tak lain dia adalah Angga yang Rika tadi ceritakan padaku. Aku mengawasi Rika dari jauh karena takut Angga macam-macam pada Rika.

“Eh, Rik, aku ada sesuatu buamu.” Ucap Angga, mendekati Rika yang tengah duduk di kursi.

“O, yah? Apa tuh?” Tanya Rika tak sabar.

Angga mengeluarkan hadiah yang disembunyikannya di belakang badannya.

“Ini buatmu, kamu maukan jadi pacarku?” Angga menembak Rika secara langsung.

Aku pergi dengan memasang muka kecewa terhadapku.

Aku tidak bisa berkata apa-apa padanya. Dan akupun langsung pulang ke rumahku, sudah biasa aku menolak ajakan dia padaku. Tapi dia tak pernah sadar akan apa yang dia selalu lakukan itu salah. Tetapi aku tak berani menasehatinya sekarang, ya mungkin lain kali bisa menyadarkannya. Hari terus berlalu tetapi dia tak pernah berubah dengan sikapnya.

Di sekolah kami, rutin setiap hari diadakan jadwal Sholat Duha, ya sebagai sekolah Islam kan, udah jadi tradisi kita. Jam waktu Sholat Duha pun telah memanggil seluruh warga sekolah.

“Rik dengar bel kan?” Tanyaku sambil beranjak dari kursi dan menghampirinya.

“Ya, aku dengar ko, mang napa?” Rika menjawabnya dengan tidak peduli.

“Ya, ayo kita Sholat dulu!” Aku mengajaknya tapi dia terus saja memainkan handphonenya dan mengabaikan aku yang berada didekatnya. Akupun langsung pergi sendiri tanpa memaksanya, karena aku tahu, Rika adalah orang yang tidak suka dipaksa dan diatur orang lain. Aku sangat paham dengan sikapnya. Aku merubahnya dengan sangat perlahan. Karena aku tak mau, aku mempunyai sahabat yang salah arah dalam bergaul.

Aku mengawasi Rika dari belakangnya. Rika mengejar Angga yang sedang berjalan berdua. Rika menarik jaketnya Angga dari belakang. Aku terus mengikuti Rika.

“Kau? Siapa dia?” Tanya Rika pada Angga dengan nada keras sambil menonjok cewe disebelahnya.

“Apa-apaan si kamu, lepasin!! Malu dilihat orang.” Bentak Angga padanya, dan melepaskan tangan Rika.

“Kamu jahat Ga, sama aku.” Lirih Rika menangis.

“Udah ya, kita putus, lagian aku sayangnya sama dia.” Angga memutuskan hubungannya dengan Rika.

Angga dan ceweknya pergi tanpa melihat dia menangis. Rika berlari ke arahku dan memeluk eratku.

“Maafin aku Ren, aku selama ini gak dengerin kamu.” Lirih Rika sambil menangis dipelukanku.

“Udah ya, jangan nangis.” Aku mencoba menenangkannya dalam kesedihannya karna cinta yang salah. Aku mengajaknya duduk di pinggir jalan.

“Kau tahu? Selama ini aku nolak ajakan kamu, itu karena aku gak mau kamu jatuh dicinta yang salah. Kamu tahu itu. Itu alasanku selalu menolakmu.” Jelas aku padanya.

“Aku minta maaf sama kamu Ren, aku salah menilaimu, aku salah paham tentangmu.” Ucapnya dengan nada kesal dan penuh penyesalan.

Setelah itu, aku dan Rika kembali bersahabat. Aku selalu mencoba menghapus kebiasaan buruknya.

(Visited 10 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Syifa Mawadah Elpasya Symes

"Hallo Guys! Namaku Syifa Mawadah Elfasya. Aku Kelas X Jurusan TPHP. Aku tinggal di Cianjur loh. Aku sangat suka menjadi Penulis dengan sedikit kemampuanku ini.

Check Also

Indahnya Masa Sekolah

Nama ku Dinda Sari, ya teman-temanku selalu memanggilku Sari, dan ada juga yang iseng memanggilku …

Say Good Bye

Disaat sang fajar telah tiba, embun yang tertegun di atas dedaunan yang tampak segar, udara …

Berharap Lebih Menyakitkan

Terlihat seseorang yang tengah berjalan disebrang jalan sana. “siap dia? Melihatnya aku tak mau memalingkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *