Breaking News
Home > Cerpen Keluarga > Kasih Sayang Yang Tersembunyi

Kasih Sayang Yang Tersembunyi

Aku tak mengerti dengan keinginan Ayah ku, aku tak paham dengan semuanya. Hidupku terasa dikekang olehnya. Aku merasa tidak sebebas orang lain dalam menjalani hidup ini. Aku merasa berbeda dari yang lain. Kenapa Ayah selalu melarang aku segalanya, haruskah aku hanya bersekolah, berlajar saja tanpa bermain dengan teman sebayaku. Ku pikir, hidupku tak sebahagia teman-temanku. Aku berbuat apa yang kumau, ayah selalu melarangku. Aku ingin bermain bersama teman-temanku, tetapi tidak untuk Ayah ku.

Hingga suatu hari, aku nekad tuk keluar rumah tanpa meminta izin dari orang tuaku.

“Kau? Ica! Mau kemana kau?” Suara Ayah mengagetkan dan menghentikan langkahku seketika. Aku tak menghiraukannya, aku melanjutkan langkahku dengan berlari.

“Ica! Kembali Ica!” Ayah tetap memanggilku.

Saat itu, aku sudah ada janji dengan teman-temanku, karena kupikir, aku malu jika tidak datang hari ini.

Setelah semuanya selesai, aku pulang ke rumah sebelum matahari terbenam. Aku memasuki rumah lewat pintu belakang dengan perlahan.

“Ica, darimana kau?” Ibu mengagetkanku dari balik pintu.

“Aku… aku… selesai kerja kelompok Bu.” Jawabku gugup.

“Kerja kelompok dimana kau?”

“Di rumah temanku Bu, di rumah Rita.”

“Sudah kau mandi sana!” Ibu menyuruhku untuk mandi.

Aku kaget melihat Ayahku sedang berada di ruang tamu dekat kamarku. Aku takut dia marah padaku, karena aku tidak mendengarkannya tadi.

“Ica, sini!” Ucap Ayah padaku.

“Iya Yah.” Aku menghampirinya.

“Darimana kau? Ayah panggil tak kau hiraukan.”

“Maafin aku Yah, tadi aku buru-buru. Aku ditunggu temanku untuk menyelesaikan tugas kelompok kami.” Jawabku dengan kepala tunduk dan perasaan takut karena memberikan alasan yang salah padanya.

“Sudah, sana kau mandi.”

Ayah mempercayai kebohonganku begitu saja. Aku tahu, kalau aku jujur, pasti Ayah memarahiku dan tidak mempercayai ku lagi.

“Yah, teman-temanku tadi punya handphone baru loh, Ayah bisakan kasih aku handphone baru?”

“Emmm… Handphone kamu kan masih bagus Ca, jangan boros gitu, keperluan kita kan masih banyak.”

“Ah, Ayah pelit!” Aku berlari keluar rumah dan menutup keras pintu. Ayah hanya diam tanpa mengejarku, aku sangat marah padanya, aku putusin untuk menginap sementara di rumah Rita. Aku tak peduli Ayah mencari atau tidak, kenapa Ayah tidak memenuhi keinginanku.

“Ca, kau kenapa ninggalin rumah? Apa marahan sama bokap lo?” Tanya Rita padaku.

“Nggak Rit, gue pengen aja coba nginep di rumah lo.”

“Oh, yaudah, bonyok lo gak marah, lo nginep disini?”

“Gak lah, mana mungkin mereka peduli sama gue.”

Malam itu, aku menginap di rumah Rita, karena aku masih marah pada Ayah ku. Tetapi, aku hanyak untuk sementara menginap disana, hari berikutnya, aku pulang, disaat matahari mulai terbenam. Tetapi jalan menuju rumahku jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Sesampainya aku di depan rumahku, aku melepas sepatuku dan menyelinap masuk ke rumah dengan hati-hari. Ku pikir, Ayah sudah tidur. Ternyata feeling ku sama sekali salah. Ayah belum tidur dan masih menungguku di ruang tamu.

“Ica, sini kau!” Panggilan Ayahku menggetarkan seluruh jiwa. Aku mendekatinya dengan rasa takut yang semakin memuncak.

“Kemana kau? Dimana kau tidur?” Tanya Ayah dengan penuh amarah. Aku hanya berdiam menundukkan kepalaku.

“Jawab! Jawab! Kau punya telinga, punya mulut, kenapa kau diam, dari siapa kau belajar bertingkah seperti ini?” Ayah mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit kujawab.

“Kau! Kenapa tak menghargai Ayahmu?” Bentak Ibu yang muncul dari balik pintur kamar. Ayah dan Ibu tetap memarahiku, tapi aku hanya diam saja. Sesekali aku ingin menceritakan semuanya.

“Ayah? Ibu? Aku juga berhak keluar rumah atas keinginanku. Kenapa kalian selalu melarangku? Kalian gak berhak melarangku.”

Jelas aku dengan nada semakin memuncak.

“Plakkk” Ayah menamparku hingga aku dibuat mundur.

“Sejak kapan kau begini? Bukankah aku, Ayahmu selalu mendidikmu dengan benar.” Ucap Ayah sambil melihat tangan yang telah mendarat dipipiku. Aku diam terpaku seketika. Aku menangis kesakitan dan menjatuhkan badanku perlahan ke lantai. Ibu melihatku dengan penuh kasih sayang. Ibu meneteskan air mata kekecewaan terhadapku. Aku segera mendekati Ibu dan memeluknya.

“Kenapa kau tega menghancurkan kepercayaan kami, Ca?”

“Ayah, bu, kenapa Ayah selalu melarangku segalanya, Ayah gak sayang sama aku kan Bu? Ayah menamparku Bu?” Lirihku.

“Bukan begitu Ca, Ayah sayang padamu. Hanya kamu salah paham”. Di tengah perbincangan aku dan Ibuku, Ayah menghampiriku dan memeluku. Aku melepaskan pelukannya. Karena kurasa Ayah tak menyayangiku.

“Ica, dengerin Ayah sayang, dengerin.”

“Ayah jahat, gak sayang sama aku, aku benci Ayah, Ayah menamparku.”

Ayah berusaha meyakinkanku, tapi aku hanya menangis dipelukan Ibu.

“Ayah melarangmu bermain keluar sana, karena ayah takut terjadi apa-apa padamu, Ca.” Jelas Ayah.

“Ayah bohong, Ayah gak bisa nurutin kemauan Ku!”

“Ayah nggak memberimu handphone baru, karena Ayah saat ini tak punya uang Ca, maafin Ayah, Ayah akan berusaha.” Ucap Ayah dan meneteskan air matanya. Aku dengan mendengar penjelasannya Ayah, aku merasa kasihan dengannya. Aku mendekatinya dengan penuh rasa penyesalan. Aku sekarang tahu apa alasan Ayah tidak mengizinkanku berbuat sesuka hati.

“Ca, kau tahu? Bagaimana Ayamu dulu saat kau dilahirkan? Ayahmu sangat bahagia saat melihatmu, bahkan dia menari-nari tanpa sadar. Karena kelahiranmu membuatnya jadi seorang Ayah. Penjelasan Ibu membuatku terpuruk rapuh. Aku meminta maaf padanya atas kelakukan dan sikapku selama ini. Aku tak pernah memikirkan perjuangan mereka. Aku hanya mementingkan kebahagiaanku sendiri. Hingga ku sadar, Ayah punya cara lain untuk menjaga dan melindungi anak-anaknya dengan caranya sendiri, meskipun dia tidak melahirkan seperti Ibu, tapi keringat dan perjuangannya menajdi saksi cinta dan kasih sayangnya untukku.

(Visited 19 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Syifa Mawadah Elpasya Symes

"Hallo Guys! Namaku Syifa Mawadah Elfasya. Aku Kelas X Jurusan TPHP. Aku tinggal di Cianjur loh. Aku sangat suka menjadi Penulis dengan sedikit kemampuanku ini.

Check Also

Indahnya Masa Sekolah

Nama ku Dinda Sari, ya teman-temanku selalu memanggilku Sari, dan ada juga yang iseng memanggilku …

Say Good Bye

Disaat sang fajar telah tiba, embun yang tertegun di atas dedaunan yang tampak segar, udara …

Berharap Lebih Menyakitkan

Terlihat seseorang yang tengah berjalan disebrang jalan sana. “siap dia? Melihatnya aku tak mau memalingkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *