Breaking News
Home > Cerpen Remaja > Kejujuran

Kejujuran

Detak ini tak sama. Rasa ini menggelegar tak menentu, terpisah dari sebuah prinsip dan menjalar bagai aliran air hujan melalui celah atap bolong. Bisakah aku memantaskan rasa, sementara hati berkelana memikirkan apa dan siapa aku. Hingga berani punya rasa kepada dia yang masih orang asing.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim … atas izin-Mu aku akan berkata jujur.

Setelah mengatur nafas yang mulai, tersenggal sebabnya badan mulai menggigil akan suatu kata yang tak pernah aku ucapkan kepada siapa pun.

Aku pun memberanikan diri, datang ke rumahnya yang letaknya tak jauh dari rumahku.

Tok … tok  … tok.

“Assalamua’laikum…,” salamku setelah mengetuk pintu.

Terdengar jawaban dari dalam, dan aku hafal itu pasti Ummi Zulaikha.

“Eh … Melati, mari masuk sayang,” tawarnya.

“Tidak usah Ummi, boleh minta panggilkan Mas Muhammad?” tanyaku malu.

“Boleh, sebentar ya sayang, Muhammad—Ada tamu Nak.” teriaknya setelah menjawab ucapanku. Dan masuk ke dalam rumah.

“Melati … ada apa?” tanyanya setelah berdiri di hadapanku.

“Boleh minta waktu sebentar, tapi tidak di sini. Di taman depan ya Kak, aku duluan.” jawabku tetap menunduk, walau aku sudah memakai cadar.

Tanpa menunggu jawabannya aku berjalan lebih dahulu, dan tiba lebih cepat. 

Selang beberapa menit dia tiba, di sampingku, namun terpisah dengan ayunan.

“Ada apa?” tanyanya lagi, mungkin ia bingung. Tidak biasanya aku mengajaknya ke taman.

“Bismillah, butuh keberanian bagiku untuk berterus terang tentang perasaan.

Entah semenjak kapan, yang pasti semenjak aku kenal kamu. Aku suka sama kamu, awalnya hanya suka karena kamu berbeda, dan aku ingin lebih dari suka, aku ingin mencintaimu, namun aku sadar. Aku tidak pantas untukmu, aku wanita yang masih belum sempurna hijrahnya, sehingga aku berusaha menghapus rasa itu, dan ikhlas menyukaimu dalam doa, itu sudah cukup. Aku tidak akan berharap apapun lebih lagi, sebabnya aku sudah lebih dulu sadar siapa aku, dan siapa kamu.

Setidaknya setelah ini, aku bisa lebih lega untuk melangkah ke jalanku sendiri.

Untuk pertama kali aku jujur, aku hanya ingin kelegaan, selebihnya biarlah anggap saja aku gak pernah ngomong apa pun,” akhirnya kata itu lolos.

“Eh … kamu bercanda kan?” tanyanya tak percaya.

“Terserah … Kakak menilai sisi mana, makasih sudah selalu menyadarkanku, aku banyak dapat ilmu dan hidayah darimu,” jawabku masih menunduk.

“Kamu belum kenal siapa aku, kan bisa saja aku tidak sebaik yang kamu fikirkan, dan juga dari kalangan orang miskin,” jawabnya dengan nada heran sekaligus tak percaya.

“Sebuah rasa itu tidak perlu langsung baru menyukai, dan sebuah rasa tulus tidak perlu memandang fisik atau keadaan.

Sudahlah, terima kasih waktu Kakak.  Maaf sudah mengganggu, anggap saja aku tak pernah berkata apapun. Aku sadar siapa aku.

Assalamu’alaikum.” aku langsung pergi begitu saja.

Sampai rumah aku menemui Bunda. Terlihat ia sedang berzhikir di ruang tamu.

Dengan pelan, aku berjalan mendekat dan menyenderkan tubuhku di sampingnya. Saat ini aku butuh pundak untuk aku berdiri kuat, menahan sesak sekaligus beban akan keputusan yang aku ambil.

Tetesan itu mulai muncul, dan semakin deras. Membasahi mukena Bunda.

“Kenapa sayang,” tanyanya lembut setelah meletakkan tasbih.

“Bunda … Melati telah jujur dengan perasaan yang Melati punya untuk dia yang masih orang asing,” jawabku.

“Terus dia jawab apa?”

“Melati tidak menginginkan jawaban, Melati jujur saja itu sudah cukup. Dan Melati sadar ia tidak akan percaya tentang rasa yang tiba-tiba, namun Melati hanya tidak ingin memendam perasaan lebih lama. Sehingga Melati memilih jujur, dan berusaha ikhlas. Melati cukup mencintainya dalam ikhlas, biar Allah yang tentukan garis kisah ini,” jawabku dengan sendu.

“Bunda bangga, mintalah petunjuk-Nya atas rasa yang mulai tumbuh. Jika ia berkehendak akan terasa indah semua sayang.” ujar Bunda memelukku. Aku hanya mengangguk dalam diam.

Cinta tidak harus memiliki, namun cinta cukup ikhlas atas rasa yang Dia beri dan rasa yang Dia ambil jika memang tidak berjodoh. Jakarta, 14 Oktober 2017.

(Dia Tuhan dalam bait akhir)

(Visited 15 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Maula Nur Baety

Alamat: Kota Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Brebes, Kecamatan Bulakamba. Desa Banjaratma, Gg. Batara 2. RT. 04 RW. 09. No HP: 0858 1385 9785 Facebook: Maula Nur Baety Email: malafebriyani20@gmail.com WhatsApp: 0831 2793 7016 Remaja berumur 21 tahun, suka menulis sejak sekolah dasar, menerbitkan cerpen dan puisinya di berbagai media.www.penulis cerpen.com. www.majalah simalaba.com. dan dibukukan di berbagai event. "Mencoba berusaha menjadi seorang seniman. Dalam bidang sastra. Menyukai puisi."_Sajak Febriyani.

Check Also

Assalamualaikum Cinta

Terlalu dangkal untuk menggapaimu, senja. Bahkan terlampau jauh untuk merengkuhmu, merasakan hangatnya pancaran sinarmu. Tempatmu …

Cinta dan Ego (Series Ke-2 Cerpen “Perpisahan Sebuah Sahabat)

Diperbatasan jalan setapak ini yang penuh ilalang dan halaman luas serta bunga bermekaran dimana-mana. Terlihat …

Perpisahan Sebuah Sahabat

“Di perbatasan ini kutulis arti sebuah sahabat, teman, keluarga dan kekasih yang sangat berarti dalam …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *