Breaking News
Home > Cerpen Cinta Pertama > Kuhalalkan Sepupuku

Kuhalalkan Sepupuku

“Dek minggu depan kamu mulai ngajarkan di sekolahan pak Aryandi?”

“Iya, mas. Besok aku juga bakalan berangkat ke rumah tante Rahma”

“Iya, ingat jangan ngerepotin tante. Kamu udah dewasa. Jangan bawa sifat anak kecil kamu kerumah orang”

“Iya mas ku. Adek mu ini akan belajar mandiri disana”

Aku baru saja menyelesaikan gelar sarjanaku di salah satu perguruan tinggi negri dan beralih profesi dari mahasiswa yang akan menjadi seorang tenaga pengajar. Namaku Hilma anayatul airdan. Aku dibesarkan dari keluarga yang sederhana. Ibuku terlebih dahulu menghadap sang pencipta di saat usiaku 12 tahun dan disusul ayahku 6 tahun kemudian. tepat disaat usiaku menginjak 18 tahun. Kesedihan tentu saja menyelimuti relung hatiku tapi aku berusaha tegar akan ujian darinya. Kata orang,  kedewasaan akan terlihat jika ia mampu menjalani harinya dengan ketegaran dan tentu saja menyikapi sesuatu tidak harus mementingkan keinginan pribadi terlebih dahulu

“Mas, kapan mas ngelamar mbak ana?” Pertanyaan itu sontak muncul didalam pikiranku

Mas Ralwan memalingkan pandangannya kearahku

“Kenapa kamu nanya kayak gitu dek?” Dia masih tetap melanjutkan pekerjaannya. Bukannya menjawab ia balik bertanya

“Bukan gitu mas, aku kan bentar lagi pindah kerumah tante Rahma dan itu gak sebentar aku punya tanggung jawab disana atau kita cari rumah aja di sekitar rumah tante Rahma. siapa yang bakalan ngurusin keperluan mas? ” Semenjak kedua orang tua kami pergi, aku dan mas Ralwan saling memenuhi kebutuhan masing-masing dikala suka maupun duka

“Mas belum kepikiran sampai situ,tunggu kamu  ada yang jagain,mungkin!” Mas Ralwan selalu mengedepankan kebahagiaanku sampai akunya sendiri selalu merasa beban bagi mas Ralwan

“Mas jangan gitu dong. Misalnya aku tidak menikah mas juga bakalan jadi bujang lapuk. Kan kasian mbak ana nya. Awas loh ntar diambil orang baru nyesel” mas Ralwan hanya tersenyum menanggapi ucapanku . Ia berbalik meninggalkanku sebelum itu berhasil mengacak rambutku yang terurai dengan bebas.

Rumah tante Rahma masih sama. Terakhir kali aku berkunjung disini sekitar 9 tahun yang lalu. Hanya tambahan taman bunga dan pepohonan yang menjadikannya lebih asri dan rindang.

“Rumah tante masih sama tidak ada yang berubah”

“Ini karena mas mu. Dia tidak suka jika tante merubah apapun yang berkaitan dengan rumah ini. Dia paling bawel jika tante mau mengikuti arsitektur rumah yang terkesan modern” kata tante Rahma. Beliau adalah adik mendiang ayahku

“Kenapa begitu?”

“Katanya tidak usah mengikuti gaya orang barat cintai apa yang sudah ada cukup perbaiki, rawat, dan nikmati”

Mas yang dimaksud tante rahma adalah anaknya. Mas Ahnaf. Anak ke dua dari tiga bersaudara namun anak pertama tante Rahma telah berpulang terlebih dahulu. Dia yang kini menjadi anak tertua dikeluarganya. Menurut cerita mas Ahnaf sosok pria yang penuh dengan tanggung jawab, disiplin, oper protektif apabila berkaitan dengan keluarganya. Itu kata tante Rahma bukan kataku. berbanding terbalik dengan sikapnya dulu saat kami masih sering bersama

“Dek. Kamu kapan datangnya?” Aku menoleh kearah sumber suara itu

“Mas Ahnaf, siang tadi mas. Kebetulan jadwal masuk sekolahnya besok pagi jadi aku cepat datangnya” jawabku kikuk tidak tahu harus bersikap seperti apa

Aku bukan lagi anak usia 9 tahun yang akan langsung memeluknya dan merengek minta di gendong keliling rumah seperti kebiasanku dulu

“Oh gitu, mas duluan yah. Mau mandi, bau keringat” mas Ahnaf beranjak meninggalkanku kemudian berbalik lagi “kamu gak kangen sama mas. Biasanya minta gendong dulu kalau mas baru pulang”

“Gak Mas, aku kan udah gede masa minta gendong lagi” wajahku sudah memerah menahan malu seperti kepiting rebus

“Mas becanda dek”

Semua terkesan nyaman bagiku. Keluarga yang begitu hangat menerima kedatanganku, semangat anak didikku yang selalu membuatku tak pernah  lelah dan aku sangat bersyukur untuk itu.

Hubunganku dengan mas Ahnaf tidak sekaku lagi semenjak pertemuan pertama kami. Dia lebih banyak menyapaku terlebih dahulu sehingga aku tidak canggung lagi kepadanya. Banyak hal yang sering kami ungkapkan terlebih sikap mas Ralwan yang tidak jauh dari sikapnya. Terlalu protektif kepada adiknya. Kadang aku berfikir hanya mas Ralwan yang bersikap seperti itu tapi ada juga pasangannya. Adik mas Ahnaf sering merengek kepadaku jika tidak diizinkan keluar rumah oleh kakaknya. Tapi aku bisa apa, aku bahkan tidak pernah berhasil membujuk mas Ralwan apalagi mas Ahnaf

“Anak-anak sepulang sekolah jangan mampir kamana-mana yah karena hari ini akan diadakan rapat guru jadi jam pulang sekolahnya dipercepat”

“Baik bu” jawab mereka serentak

Selepas rapat guru, aku tidak langsung pulang. Pak Rahman mengajakku makan siang dan tidak enak jika harus menolak. Beliau yang selama ini membantuku disekolah. Kami makan di restoran dekat tempat kerja mas Ahnaf, aku berharap tidak bertemu dengan mas Ahnaf. Tapi harapan tinggal harapan setelah memesan makanan mas Ahnaf masuk kerestoran tapi sepertinya dia tidak menyadari keberadaanku. Ia terlihat sibuk berbicara dengan seorang wanita disampingnya.

Wanita!!

Wanita yang terlihat anggun dewasa dan senyuman yang begitu indah. Astaga apa yang kupikirkan. Tidak ada hak ku untuk melarang mas Ahnaf berdekatan dengan seorang wanita. Aku tidak berhak

“Bu Hilma kenapa?” Tegur pak Rahman yang sedari tadi berbicara, aku sama sekali tidak memperhatikannya karena terlalu sibuk dengan pikitanku

“Eh iya pak,maaf tadi bapak bilang apa Saya kurang fokus. Kayaknya butuh aqua deh pak” candaku yang ditimpali kekehan pak Rahman. aku tidak perlu mengurusi mas Ahnaf toh dia bukan siapa-siapaku hanya sebatas saudara sepupu. Tapi kenapa dadaku sesak. Aku tidak rela mas Ahnaf tersenyum seperti itu kepada orang lain. Dia harusnya mempertahankan sikap mahal senyumnya.

Aku larut dalam perbincangan dengan pak Rahman. Dia menceritakan kisah hidupnya yang menurutku harusnya diceritakan kepada orang terdekatnnya. Bukan aku, orang asing yang baru dikenalnya

” Pak Rahman hebat. Diusia yang begitu muda bisa menjadi wakil negara kita. Jarang loh pak ada orang sehebat bapak. Pemain voli termuda waktu itu, lalu kenapa bapak milih jadi guru sekolah biasa ketimbang pelatih nasional?”

” dulu sempat kepikiran jadi pelatih nasional tapi saya pikir lagi. Saya ingin membangun kepercayan diri anak-anak di awal usaha mereka” aku kagum dengan pak Rahman. Dia ingin hasil yang dibarengi usaha keras dan perjuangan bukan hasil yang tak terlihat usahanya

” bapak mulia sekali”

” saya jadi tersanjung pujian bu Hilma, ngomong-ngomong pacar Bu Hilma tidak marah jika melihat bu Hilma makan bareng saya?” Perasaanku atau aku yang kegeeran kalau pak Rahman sengaja bertanya untuk mengetahui statusku

“Saya hampir keselek pak. Saya tidak punya pacar jadi tidak ada yang akan marah, kecuali mas saya dia orangnya waspada banget. Tapi tenang dia dirumah sekarang,  jauh dari sini” ucapku

“Jadi ada kesempatan dong. Kenalin saya sama mas bu Hlma. Bilang saja ada yang mau bawa adiknya kepelaminan”

“Pak Rahman saya ke geeran loh” aku memutar bola mataku malas

“Saya tidak bercanda” tampak keseriusan pak Rahman

“Dek!!” Pemilik suara ini terlihat tak bersahabat. Tatapannya begitu tajam menusuk keretina mataku

 Sebelum menjawab panggilannya, mas Ahnaf sudah terlebih dahulu menyeretku keluar restoran

” mas kenapa sih? Aku belum sempat pamitan sama pak Rahman” ucapku setelah sampai dimobilnya

“Namanya Rahman. Pacar kamu?” Mas Ahnaf fokus menyetir. kerutan di dahinya menandakan dia sedang marah. Tapi kenapa?

“Mas kenapa sih? Pak Rahman bukan pacar aku. Baru juga mau jadian mas datang ngerusak suasana” ketusku. aku kesal dengan sikap mas Ahnaf

“Gak boleh. Kamu tidak boleh pacaran” apa apan ini. Aku bukan adiknya yang bisa dia atur. Umurku juga sudah matang memiliki pasangan

“Apa urusannya sama mas. Aku bukan gadis remaja lagi. Aku sudah matang untuk berkeluarga. Mas sendiri melarang aku pacaran sedangkan mas enak-enakan pacaran ngelus-ngelus tangan, senyum-senyum gak jelas” setelah mengucapkan itu aku keluar dari mobil menahan isakanku

Pertahananku runtuh selaput bening dari mataku yang kutahan sedari tadi meluruh begitu saja. Tubuh ini terhuyung membentur dinding hangat nan  kokoh. Pelukan ini kurindukan

“Maaf” satu kata yang terlontarkan dari bibirnya

Aku mendongak menatap  wajah sendunya, menepis pelukannya meskipun aku menginginkan itu. Ia menarikku kembali kepelukannya lebih erat

“Jangan berikan hatimu ke orang lain. hanya aku yang boleh memilikinya. Aku mencintaimu Hilma. Hanya kamu yang memenuhi pikiran mas dari dulu sampai sekarang”

Apakah aku salah dengar. Mas Ahnaf mencintaiku?. Tidak mungkin. Jikapun iya. Biarkan aku  menikmati waktu ini. Tapi siapa wanita yang bersama mas Ahnaf tadi?. Jika ia mencintaiku tidak mungkin mas Ahnaf bermesraan dengan wanita lain

“Perempuan yang tadi?” Tanya ku tanpa melepas pelukannya

” dia teman kantor mas, dilihat dari gelagatnya memang dia punya rasa sama mas. Mas tidak akan kepincut. Cinta mas hanya untuk kamu” syukurlah. Rutukku dalam hati

Aku menatap lekat manik mata mas Ahnaf mencari kebohongan darinya tapi aku tidak menemukan hal itu melainkan ketulusan yang menjawab

“Bohong!! Mas tadi senyum-senyum gak jelas dan ngelus tangannya. Apa namanya itu mas. Kalau bukan bohong”

“Mas senyum karena melihat muka kamu yang kaget pas melihat mas. Dan soal ngelus tangannya. Itu karena mas cemburu melihat kamu gak pernah lepas natap si Rahman Rahman itu. Malah kamunya senyum sambil ngerutin hidung pesek kamu itukan cuman buat mas. Jadinya pas mas mau nuangin sambal di mangkuk mas malah ke tangan Bu siska. Kamu cemburu?”

“Gak, aku gak cemburu” aku mengelak walapun sebenarnya memang iya

” kamu harus cemburu karena mas ini punya kamu. Dan kamu punya mas” aku tersenyum mendengar ucapannya

“Sejak kapan?. Mas belum nikahin aku apalagi ngelamar. Aku bukan milik siapapun untuk saat ini”

“Siapa bilang? Mas sudah melamarmu sejak dulu sebelum om Airdan pergi. Memangnya kamu gak penasaran sama mas Ralwan yang tiba-tiba ngijinin kamu pergi jauh dari dia. Hmm?” aku menggeleng

“Itu karena kamu tinggal dirumah calon suamimu calon ayah anak-anak kita”

“Dek..” mas Ahnaf menggegam kedua tanganku, menatap lekat manik mataku dan menghela nafas berulang kali

” hmm.. iya mas” aku yang ditatap seperti itu salah tingkah dibuatnya sebisa mungkin berusaha mengalihkan pandanganku. Genggaman mas Ahnaf semakin erat membuat jantungku berdegup kencang

“Hilma Anayatul Airdan menikahlah denganku. Aku tidak sehumoris ataupun romantis seperti impianmu tapi aku berjanji akan mengabdikan cintaku hanya untukmu. Aku tidak akan memintamu memikirkan jawabannya karena aku tidak akan membiarkanmu berkata tidak. Sampai kapanpun kamu milikku dan sebaliknya. Aku mencintaimu dan karena cinta ini aku tidak akan pernah membiarkan siapapun membuat celah diantara kita”

Setetes bulir permata menjatuhi pipiku lagi. Tiap kata yang mas Ahnaf ucapkan membuatku tak bisa berkata apa-apa. Kuanggukan kepalaku dan kudekap dada bidangnya mendengar jelas detak jantungnya

” aku juga mencintaimu mas, iya mas. Aku mau menikah dengan mu”

Mas Ahnaf laki-laki yang telah memporak-porandakan hatiku. Aku yang tak pernah menyangkan dia yang akan mencintaiku selama ini. Dalam doa, aku  hanya memanjatkan cinta yang akan membimbingku menemukan hati yang terisi tentang diriku . Hatiku yang sebelumnya hanya ruang kosong yang menanti seseorang mengisinya kini tak lagi sama. Mas Ahnaf laki-laki yang ku kagumi yang terkadang kusebut namanya di ujung doaku kini resmi mengisi ruang kosong itu. Dia yang akan menjadi pemimpin dalam mengarungi bahtera suci pernikahan. Layaknya seorang kapten kapal pesiar yang akan berlayar mengarungi luasnya samudra. membimbing nahkodanya, meyakinkan penumpangnya bahwa ombak yang datang akan berlalu, adanya badai tidak akan mampu menggoyahkan isi kapal ini meski tak dipungkiri pasti akan menerjang. Tapi aku yakin seberapa banyak aku menyebut namanya, dia lebih banyak menyebut namaku dalam ujung doanya.

Cinta tak pernah memilih kapan ia akan berlabuh. Cinta tak pernah memilih kepada siapa ia akan menetapkan rasanya. Cinta tak pernah memandang status cintanya, karena rasa cinta itu murni timbul dalam hati seseorang tanpa adanya keterpaksaan.

“Aku mencintaimu sepupuku”

(Visited 17 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Wilma Yullia

Seorang wanita yang mulai menulis cerpen dalam mengapresiasikan pikirannya.

Check Also

Single Father and Me

Anak itu memandangku dengan tatapan sayu namun lembut membuat hati ini merasa iba tapi juga …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *