Breaking News
Home > Cerpen Remaja > Like Yellow n Blue

Like Yellow n Blue

Matahari telah menaiki singgasananya. Sedangkan bulan dan bintang bersembunyi dibalik mega karena kalah terang dengan sang pancaran sinar matahari, seakan-akan cahayanya tak akan pernah mati.

Sama halnya dengan suasana hatiku saat ini. Cerah. ‘bawaannya pengin senyum terus’ batinku. Bersiul-siul, bernyanyi-nyanyi gak jelas itulah yang ku lakukan. Sampai pada akhirnya kak Fikry melihat tingkah lakuku yang dimatanya merupakan hal yang begitu konyol.

“Sudah gila, ditambah gila. Makin menjadi-jadi gilanya. Gila kok dipelihara!” ucapnya sambil berlalu

“Biarin. Jadi orang sirik saja, sih!” sindirku sedang yang di sindir tidak merespon

“Jadi orang jangan terlalu serius nanti jadi…” langkahnya terhenti dan memotong pembicaraanku

“GILA…!!!” sambil mendelikkan matanya yang kuanggap sangat menjijikkan.

“Bukan aku yang ngomong” jawabku memancing emosinya kak Fikry. Kak Fikry gemas melihat tingkahku sampai-sampai keluar asap dari hidung dan kedua telinganya

“Mauraaaaa!!!” geramnya

“Apa?”

“Mauraaaaaaa!!!” geramnya lagi sambil menahan amarahnya

Waduh… kayaknya, bakal ada perang dunia ketiga, nih. Lari, ah. Takut kena serangan bom atom.’ bisik batinku

Aku berlari kocar-kacir demi melindungi diri. Sedangkan kak Fikry mengejarku seperti banteng yang kelaparan dan haus akan darah. Tetapi aku berlari kalah cepat dengan kak Fikry. Ia berhasil menangkapku sambil menjewer telingaku di tambah lagi kata-kata makian yang ia lontarkan kepadaku.

“Kamu ini… sama orang nggak ada sopan santunnya.” ucapnya sambil menjewer telingaku

“Ampun” sambil meringis kesakitan

“Pokoknya kamu harus minta maaf!” pintanya masih dengan menjewer telingaku

“Tak sudi!” jawabku seadanya. Setelah aku berucap seperti itu, ia malah menambah hukuman untukku. Selain dijewer, juga dicubit. Di cubitnya dengan di putar-putar pada bagian tanganku.

“Aaarghhh…”

“Minta maaf!” ia meminta tak menunjukkan wajah memelas. Apalagi sambil menggosok-gosokan kepalanya di pangkuanku. Ya kaleee kakak gue kucing.

“Iya-iya aku minta maaf, kakakku yang sedikit gila”

“Mauraaaa…” dengan senyumnya yang sangat menyeramkan bagaikan seekor harimau yang ingin menerkam mangsanya.

“Iya,,,,Maura minta maaf wahai kakakku yang baik, tampan, dan gak gila” aku memujinya sedang yang di puji malah ketawa-ketiwi sendiri

“Eh… malah ketawa. Cepat  lepaskan tanganmu. Sepertinya kak Fikry bahagia kalau aku di siksa, hah?” tambahku

“Iya-iya sabar sedikit. Jangan ngoceh mulu. Suaramu itu sudah jelek kayak kaleng. Jadi jangan membuatku pusing dan mual karena suaramu” Tandasnya sambil melepaskan tangannya

“Bodo amat…”

Aku pun berlalu. Kuhiraukan semua ejekaan dan makian kak Fikry tentangku. Telinga ini serasa panas jika aku harus mendengar semua kicauan kak Fikry yang membuatku semakin  muak.

“Suara kaleng seperti motor butut, tak enak didengar,  tak enak di perut” kak Fikry bernyanyi-nyanyi nggak jelas. Entah lagu apa yang ia nyanyikan. Yang pasti, lagu itu ditujukan untukku.

Aku tak mrespon dan menunjukkan air muka bete, suntuk, kesel. Pokoknya campur aduk deh kayak gado-gado (mending gado-gado enak, lha ini bikin hati gue PEDES ! sepedes harga cabe yang lagi naik)

Walaupun aku tak merespon, tetap saja kak Fikry meledekku. Ibarat kata, sampai mulutnya berbuihpun takkan pernah berhenti untuk meledekku sebelum azal menjemputnya. Tetapi, hatiku tak sekuat baja supaya bisa menahan amarah yang sengaja dipancing oleh kak Fikry

“Puas banget, ya kak Fikry ngeledekin Maura. Ketawa saja terus sampai pita suara kak Fikry putus dan harus di opersi sampai berpuluh-puluh jahitan.” bentakku kepada kak Fikry dengan suara tinggi, walaupun sebenarnya aku tau, tidak sopan berbicara dengan nada tinggi terhadap  orang yang lebih tua.

Sayangnya, kak Fikry malah tertawa terbahak-bahak seakan-akan apa yang kuucapkan tadi hanya kekonyolan semata. “Kak Fikry ngeselin. Kak Fikry nyebelin!” ucapku sambil bergegas pergi keluar rumah untuk pergi ke sekolah. Tak lupa pintu di tutup dengan keras membuat jantung mama hampir saja copot. Sedangkan kak Fikry malah melongo seakan-akan kejadian itu hanya ilusi. Sampai-sampai aku lupa mencium tangan dan mengucapkan salam kepada mama tetapi tidak untuk kakakku yang stress itu.

***

Bel sekolah telah berbunyi. Membuat siswa-siswi yang terlambat lari kocar-kacir supaya bisa masuk ke sekolah yang pada akhirnya harus berurusan dengan guru BP/BK untuk mendapatkan sanksi supaya jera untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Tetapi, tidak denganku. Aku bisa tertawa puas dikelas karena tidak terlambat masuk ke kelas. Berhaha-hihi bersama teman. Sesuai dengan temaku hari ini. Cerah.

Tetapi, kecerahan itu mulai meredup setelah guru super killer (guru matematika) datang. Dengan modal tampang yang galak, ia telah berhasil membuat kelas menjadi normal kembali. Pak Ridwan menjinjing tasnya yang sangat kuno dan meletakkannya di atas meja. Ia duduk sambil berucap “siapkan kertas selembar. ULANGAN!” jelasnya

“Hahhhh…!”serentak siswa kelas 9A melongo untuk beberapa detik  kemudian Lalu menutup mulutnya kembali selama beberapa detik (untung tidak ada lalat yang masuk).

“Arghh… ngapain sih, si pak tua ini ulangan segala. Gak lihat apa orang lagi senang-senangnya diganggu!” gerutuku dalam batin

“Mauraaa!” panggil pak Ridwan dengan nada tinggi

“Ya, pak!” jawabku kaget

“Cepat siapkan kertas selembar. Jangan melamun saja!” bentaknya

Ya pakjawabku tertunduk malu. ‘bisa nggak, sih nggak usah pake nada suara tinggi. Bisa-bisa pamor gue jatuh gara-gara kau, pak tua!’ hatiku berkomat-kamit didalam hati       

***

Entah kenapa aku tak bersemangat lagi seperti pagi tadi. Tema hatiku berpindah haluan menjadi  bermuram durja. Bukan lagi cerah. Selama istirahat, aku hanya melamun di kelas, menggambar benang kusut di sehelai kertas, dan beberapa kali aku menguap. Betapa bosannya hidupku. Sedangkan teman-temannku yang lain bisa berhaha-hihi tanpa beban. Tak terasa istirahat telah berakhir. Fakhri si ketua kelas yang doyan banget jemput guru masuk ke kelas sambil membawa tumpukkan kertas. Aku yang melihat hal tersebut, penyakit keponya mulai kumat. Tanpa disuruhpun aku langsung bertanya kepada Fakhri dengan mimik wajah yang jutek. “Fakhri, loe bawa apaan?” tanyaku berbasa-basi.

“Menurut loe, gue bawa apaan? gorengan?!” jawab Fakhri tak kalah jutek. Mendengar jawaban fakhri, aku merasa wajahku berubah menjadi kecut. Refleks bibirku berubah 180  dari bibir normalnya. Melihat hal itu, Fakhri segera mengambil tindakan supaya tidak terjadi perang dunia ke 3.

“Eelaaah… ini kertas ulangan yang sudah dinilai oleh pak Ridwan. Eh… loe nggak usah so jelek deh. Punya wajah jelek bangga banget.” ledeknya sambil tertawa kecil.

“Enak aja loe ngatain gue jelek. Gue itu cantik” ucapku terhadap perkataan dari Fakhri. Aku tak terima Fakhri mengatakan kalau aku itu jelek

“Ia sih loe cantik kalau…” Fakhri memperlambat bicaranya membuatku semakin kepo. “kalau apa?” tanyaku tak sabar “you look beautiful if you join with ugly people community” ucapnya sambil tertawa lepas. Mendengar ucapan dari mulut harimau (Fakhri) telingaku seakan-akan mengeluarkan asap. Wajahku merah padam. Perang dunia ke 3 benar-benar akan terjadi setelah melihat tingkah lakuku gara-gara fakhri. Untungnya, aku masih bisa menahan esmosi. Ups… ralat (emosi) dan mencoba tersenyum walaupun kata-kata si mulut harimau itu telah menggoreskan luka di hatiku. Sedangkan Fakhri segera menjauh dariku. Takut diterkam oleh ganasnya beruang madu kalau lagi ngambek. Ia segera membagikan hasil ulangan siswa-siswi kelas 9A. Ia melihat kertas ulangan matematikaku dan nilainya adalah 50. Fakhri kaget bukan main. Aku menganggap kagetnya Fakhri itu karena aku bisa dapat nilai 100. Nggak ada salahnya kan kalau aku pe-de sedikit. Lagian, aku-kan mencoba untuk positif  thinking.

Fakhri pun menghampiri mejaku. ku lihat raut wajahnya. Masih seperti tadi. “jangan-jangan nilaiku 100, lagi” umpatku dalam hati sambil senyum-senyum sendiri. Sedangkan Fakhri merasa aneh melihat tingkah lakuku. Seperti melihat alien cengar-cengir sendiri. Tiba-tiba Fakhri mengagetkanku, hingga khalayanku sirna.

“Woy… ngelamun aja. Nih, nilai ulangan matematika, loe!” ucapnya sambil memberikan kertas ulangan. Sepertinya, ia tidak ikhlas memberikan kertas ulangan matematika kepadaku.

“Woles dong woles. Eh, nilai ulangan matemaika gue 100, kan? Ngaku aja deh?! ucapku

“Heuhh… ge-er banget sih, loe. Lihat aja sendiri” ucapnya sebal

‘Uhhh… dasar cowok. Nggak pernah mau ngakuin kalau cewek itu lebih unggul daripada cowok.’ Batinku

Aku ingin sekali melihat nilai ulangan matematika. Tapi, setelah dipikir-pikir, nanti aja deh. Aku mau bikin surprise buat mama, papa, and khususnya buat kak Fikri yang selalu saja meledekku karena sikapku yang begitu konyol di matanya. Padahal, kak Fikri itu nggak nyadar kalau adiknya yang cantik, putih, baik, nggak sombong, dan rajin menabung ini pintar. Ya, bisa dikatakan pintar terpendam. Sengaja aku memendam kepintaranku ini. Aku mencoba mengalah dan membiarkan orang lain berprestasi. Tapi, suatu saat aku akan menunjukkan kepada dunia begitu pintarnya diriku.

***

Suasana kelas 9A begitu gaduh. “Yuhuuuu… merdeka!! tidak ada guru. Bebas dari tugas. Horeee….!!” teriakku yang juga di dukung oleh siswa-siswi 9A, kecuali Fakhri. Ia orang yang paling menentang kalau guru gak ada kelas jadi gaduh. Tuh anak nggak bisa diajak kompromi. Sekali aja, bebas dari namanya belajar. Nggak puyeng tuh otak belajar terus. Kali ini, aku tak melihat si kutu kupret di kelas. Sudah ketebak, pasti lagi jemput guru, atau kalau nggak minta tugas ke guru piket. Tugas, tugas, tugas… menyebalkan.

kutu kupret (sebutan untuk Fakhri karena ia orangnya kutu buku. Kalau di sebut si kutu buku, terlalu bagus plus nggak cocok sama orangnya. Kutu kupret (copy-paste dari sinetron yang lagi booming) Fakhri masuk ke kelas dengan lesu. wajahnya di tekuk. Segera ia menulis tugas di papan tulis. Berikut isi tugasnya.

“Berhubung waktu tinggal 5 menit lagi, maka kerjakan tugas Fisika halaman 25. Besok dikumpulkan”

Alhamdulillah, gurunya nggak bakal masuk. Lagian si kutu kupret terlalu rajin, sih.

Bel pulang berbunyi…

Sorak sorai bergembira kelas 9A menyambut bel pulang sekolah. Seolah-olah tak sabar untuk pulang karena seharian sudah di penjara di dalam kelas. Berdoa sebelum pulang sekolahpun lupa. Uhhh… hatiku tak sabar melihat ekspresi wajah kak Fikri yang kaget bukan main melihat nilaiku.

Sesampainya di rumah…

Rumah tampak sepi. Tak ada orang satupun. Si bawel kak Fikri pasti belum pulang dari kuliahnya. Membosankan. Aku segera masuk ke kamarku yang berantakan. Aku belum sempat merapikan kamarku, lebih tepatnya aku  tak pernah merapikan tempat tidurku. Aku segera mengganti bajuku yang baunya membuat nafsu makan orang hilang. Tiba-tiba terdengar suara motor ninja di beranda rumah. Aku sudah memastikan bahwa kak Fikri sudah datang. Kak Fikri selalu memakai motor ninjanya untuk menggaet hati para wanita, ia selalu berkata begitu.

Ia masuk begitu saja, tanpa mengucap salam terlebih dahulu. Aku segera menyambut kedatangannya.

“Waalaikum salam” sindirku

“Maaf kakak lupa, assalamualaikum” ucapnya

Aku tak menjawab salamnya

“Kok nggak di jawab?” tanyanya heran

“Kan tadi sudah?! ucapku seadanya. Sedangkan wajahnya langsung berubah kecut. 

Kak Fikry pun berlalu dengan mimik wajah datar plus kecut. Aku ingin sekali memperlihatkan nilai ulanganku, tapi nanti aja deh. Kalau sudah pada kumpul  plus kalau kak Fikry ekspresi wajahnya datar seperti piring, dia hanya diam seribu bahasa walaupun orang di sekelilingnya mengajak untuk berkomunikasi (jarak dekat).

Selang beberapa menit, kak Fikry pergi lagi dengan mengenakan jeans dan kemeja plus memakai parfum penakluk wanita. Baunya itu, lho…kayak wangi parfum minyak nyong-nyong. Dan untuk  kedua kalinya, kak Fikty lupa untuk mengucapkan salam. Main nyelonong aja.

“Waalaikumsalam” sindirku

“Ooh  iya. Lupa lagi, assalamualiakum” ucapnya

Aku tak merespon.

“Kok gak di jawab. Jangan bilang kalau kamu mau nge-jawab , ‘kan sudah tadi’ “ ucapnya sambil memperagakkan gayaku tadi.

“Nggak, kok. Siapa bilang?” jawabku

“Terus mau jawab apa?” tanya kak Fikry penasaran

“Maura mau jawab, INGAT  UMUR DONK… MASA NGUCAPIN SALAM SAMPAI LUPA BEGITU, SIH. DASAR KAKEK…!!!”ucapku setengah berteriak. Sedangkan kak Fikry malah menutup kedua telinganya karena saking cemprengnya suaraku.

“Udah ceramahnya?” tanyanya ketus

“Yup. Cukup sekian dan terima kasih”

***

Siang berganti sore. Sore berganti malam. Tibalah saatnya untuk memberikan  surprise kepada mereka. Mumpung lagi pada ngumpul di ruang keluarga sambil nonton acara televisi.

“Selamat malam, semua. Maura punya surprise buat mama, papa, dan kak Fikry!” ucapku sambil menunjukkan air muka ceria

“Apa?” tanya mama, papa, dan kak Fikry berbarengan

“Tara!!” aku memberikan hasil ulangan kepada mama. Papa dan kak Fikry ikut nimbrung untuk melihat. Dan apa yang terjadi ?? mereka malah bilang..

“Hahahaha…….. dapat nilai 50 kok bangga” ucap kak Fikry tertawa lepas

“Kamu itu aneh. Dapat nilai 50, aja bangganya gak ketulungan.” Ucap mama

Aku yang mendengar komentar dari mama dan kak Fikry bingung. ‘masa sih aku dapat nilai 50. Nggak mungkin. Pasti mereka ngerjain aku’ batinku

“Ikh….kok 50. Kan nilainya 100” belaku

“Kalo nggak percaya, tuh, lihat saja sendiri” ucap kak Fikry sambil meletakkan nilai ulangan matematikaku di atas meja. Dan ternyata benar saja. Mereka tidak bercanda. Ini seriusan. Nilaiku 50.

“Sejak kapan nilai 100 berubah menjadi nilai 50.” ucapku nge-les

“Sejak tadi. Emang gak ada yang mengganti nilai ulanganmu, keles” ledek kak Fikry

“Mulai sekarang, papa akan me-les privatkan kamu supaya nilaimu gak anjlok!” ucap papa bijak

‘Oke-oke bisa di terima’ batinku

“dan semua fasilitasmu seperti handphone, tablet, dan laptop akan mama sita. Kamu bisa mengambilnya kembali, apabila kamu mendapatkan peringkat 5 besar” ucap mama dengan nada mengancam

‘yang ini tidak bisa di terima’ teriakku dalam batin

Aku berlari menuju kamarku. Kututup pintu dengan keras. Aku kesal. Kesal tingkat dewa *lebaynya kumat*. Semua fasilitasku di sita sama mama. Aaarrgghhh……… hidupku yang glamours akan sirna. Menyebalkan. “Kenapa, sih, semua orang gak ada yang sayang sama aku. Semua orang sayangnya sama kak Fikry. Ini gak adil…………” batinku‘The truth of this day, my heart is un-consistent, like yellow and blue or blue and yellow’

(Visited 9 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Arani Afsheen

Seorang introvert yang berusaha untuk tampil di lihat banyak orang. Walaupun keramaian tak pernah berhasil membuatnya nyaman. Menulis bagian dari dirinya. Dan dirinya tak pernah bisa di pisahkan dengan menulis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *