Breaking News
Home > Cerpen Remaja > Perpisahan Sebuah Sahabat

Perpisahan Sebuah Sahabat

“Di perbatasan ini kutulis arti sebuah sahabat, teman, keluarga dan kekasih yang sangat berarti dalam hidupku. Untuk sekarang dan nanti sampai waktu terhenti”_Mala

“Ketika cinta hadir di antara kita takkan ada yang bisa menghapus arti sahabat di antara kita”_Tyaz

Melangkahlah sejauh mana kamu ingin tapi ingat kenangan kita di kamar ini takkan pernah terlupa dalam sekejap mata sebab kita yang mengukir arti sebuah sahabat sejati.

Terlihat di sudut kamar kost seorang wanita bernama Mala Al Syifa Biankara sedang duduk menatap layar komputer dengan pandangan kosong. Dari belakang wanita lain berjalan masuk ke kamar dengan setumpuk paket yang ia ambil dari post depan.

“Mal, ini ada paketan buatmu katanya. Emang kamu pesan novel lagi ya?” tanya wanita yang bernama Tyaz Rachmatina Budi. Anak dari keluarga Budi Antara.

Sedangkan yang di ajak bicara diam tak berkutik bahkan ia mungkin tak melihat ada orang masuk.

“Huffh… pasti ngelamun lagi dia.”

Karena sebal tak ada sahutan Tyaz berjalan mendekat dan menepuk pundak Mala.

“Eih… ada apa Yas?” tanyanya kaget.

“Kamu tuh ya Mal udah sering aku bilang udahlah lupain dia jalani saja kisah cintamu yang sekarang. Lagian apa kamu akan tega jika dia menjadikanmu kekasih sedangkan kamu sudah punya kekasih ish ish ish… dasar.” ucapnya kesal dengan sikap Mala.

“Entahlah Yas akupun bingung dengan hati dan pikiranku, di satu sisi aku mencintai Sarjuli di satu sisi aku menyukai Nanang. Huffhh… aku harus gimana Yas?” katanya dengan frustasi.

“Kamu egois kalo kaya gitu Mal, tanpa sadar kamu menyakiti mereka. Apa kamu tahu dengan sikapmu itu membuat Nanang menyukaimu dan dia bingung untuk berkata jujur karena dia sadar kamu milik sahabatnya dan dia tahu Sarjuli lebih mencintai kamu. Sedangkan Sarjuli kamu termasuk sudah buat dia kecewa jika tahu ini semua karena kenapa kamu menyukai pria lain sedangkan kalian berpacaran. Itu sangat menyakitkan Mala.”

“Ya Allah Yas asal kamu tahu aku sadar dengan semua ini tapi aku bingung hati aku tidak seperti logikaku Yas. Aku bahkan gak mau kehilangan mereka semua. Aku sadar aku egois karena aku juga salah kenapa aku ada di kehidupan dia. Rasanya kini campur aduk.” jawabnya dengan air mata yang kini deras di pipinya.

“Sudahlah, belajar untuk melupakan Nanang karena aku yakin Sarjuli bisa bahagian kamu dan dia sangat mencintai kamu Mal.” ucapnya menenangkan Mala yang kini tersedu-sedu.

Tiada kisah indah yang mudah sebab lika-liku ujian Allah akan hadir karena itulah yang akan membuat seberapa kekuatan sabar itu sendiri.

Setelah beberapa lama membuat Mala tenang dan kini sudah ke alam mimpi Tyas meninggalkan nya di kamar dan berjalan keluar kamar kost untuk mencari makan karena dia yakin Mala belum makan seharian ini.

Indahnya bersama saat di antara kita tahu cara bagaimana membuat sebuah ketulusan yang takkan pernah pudar walau pertikaian ada.

Ketika Tyaz kembali dia tidak melihat Mala di kamar. Kemana dia ko gak ada di mana-mana?” bingungnya.

Andai kamu tahu bahwa aku mencintainya aku yakin kamu akan membenciku Mal.” ujarnya diri sendiri dengan nada sendu.

Terkadang rasa cinta tidak bisa di tebak kapan akan hadir dan pergi. Cinta datang tiba-tiba seiring waktu berjalan seirama angin yang meniup-niup bumi ini dengan kencang.

Ya Allah apa aku salah mencintainya? bahkan aku tidak bermaksud mengecewakan sahabatku namun aku sendiri tidak bisa menyalahkan siapapun karena aku sadar aku yang salah karena mencintainya yang mencintai orang lain.” doanya kembali. Ya jujur dia mencintai Nanang karena sikap Nanang mampu membuat ia tak bisa berpaling.

“Cinta sama siapa Yas?” tiba-tiba dari belakang Mala datang dengan membawa bunga di tanganya.

Sedangkan Tyaz tegang. Apa Mala denger semua ya, Ya Allah aku belum siap kehilangan sahabatku.” doa nya harap-harap cemas.

“Eh gak ko hehe… eh ko bawa bunga dari mana Mal?” alihnya karena ia takut makin panjang.

“Owh ini hehe… tadi Sarjuli lewat depan komplek dan kebetulan tadi aku haus pengin es kelapa jadi ketemu dan dia kasih bunga.” ceritanya dengan wajah bersemu merah merona.

Syukurlah jika kamu bisa teralihkan karena aku belum siap kamu tahu yang sesungguhnya.” batin Tyaz.

“Cieeee… habis ketemuan ya ya hayooo ngaku.” candanya dengan wajah sendu karena ia merasa bersalah denganya.

“Apaan sih Yas, kebetulan aja hehe.., lagian juga dia tumben banget beli bunga buat makan aja kadang susah kalo tanggal tua hahaha.” tawanya dengan riang tanpa beban.

Ini yang aku harapkan Mal, melihatmu tertawa bukan menangis.” batin Tyas.

“Jahat kamu Mal cowok sendiri di bilang gitu bukannya berterima kasih juga ish ish.” kata Tyas mencoba mengalirkan obrolan.

“Habisnya aku kesal denganya masa aku bikinin dia puisi gak ada respon hanya dilihat doang tanpa berkomentar yang berlebihan dikit kek buat semangat ini cuek bebek kaya patung pancoran kan sebel aku.” dumelnya dengan tangan sibuk membereskan lemari bajunya yang berantakan kaya kapal pecah.

“Kesal apa kangen cieeee… bilang aja Mas Sajulit eh Sarjuli aku kangen gitu hahaha.”

“Ayas apaan sih ish rese loe au ah gelap lagi males bahas dia.” acuhnya berlalu ke tempat tidur.

“Ooo … aku nganenin ya ya hehe. Oh ya Mal kamu jadi ke Jawa minggu besok?” tanyanya karena setahu dia Mala udah rencana ke Jawa cuty minggu ini.

“Jadi nanti berangkatnya aku ambil jam malam biar bisa tidur kalo siang suka susah tidur di bis.” jawabnya dengan senyum-senyum gak jelas dengan ponselnya.

“Owh gitu… terus kamu sendiri apa sama Sarjuli Mal?” tanyanya kembali dengan ikut merebahkan badannya di samping dia.

“Gak sendirian aja ah lagian cuma enam hari doang dan dia juga kerja.”

“Hemm begitu bilang aja kamu mau jalan sama mantanmu itu ya kan.” goda nya.

“Apaan sih Yas udah ah gue ngantuk besok harus kerja sepulang itu gue mau ke kontrakan kak Liya soalnya Kiki bawel banget minta ketemuan.” jawabnya berlalu ke kamar.

“Haha… dasar si Kiki mah manja banget sama loe Mal gue juga heran.”

Meneketehe ngantuk gue.” ujarnya mata tertutup.

Jangan pernah lelah membuat seseorang tersenyum sebab itulah Amal yang tanpa kita sadari.

Indah saat bersama dengan canda tawa sederhana yang menghias pertemanan ini. Dari dahulu sampai kini.

Fajar pun tiba mentari menari dengan indah di balik awan pagi yang bergitu cerah hari ini.

Hoammzzzh, jam berapa ya? mana belum sholat lagi.” ucap salah satu gadis yang terbaring di baling selimut hello kitty.

Dengan mata masih setengah ngantuk gadis yang tadi Ternyata Tyaz yang bangun duluan.

Ia dengan mata masih berat menggoyangkan badan Mala agar sholat shubuh juga.

“Mal bangun udah shubuh sholat yuk cepetan aku mau wudhu duluan ya.” ucapnya setelah mendapat respon deheman Mala.

Setelah keluar dari kamar mandi ia geleng-geleng kepala melihat Mala yang masih terlelap dengan napas tidak teratur.

Ia berjalan mendekat dan menarik tanganya agar bangun, namun begitu ia memegang tanganya ia merasa tubuh Mala panas sekali dengan khawatir ia memegang kening nya dan betapa syok nya ketika ia tahu bahwa Mala demam tinggi dengan wajah kalang kabut ia mondar-mandir bingung harus bagaimana sedangkan ini masih terlalu pagi.

Ia mengambil handuk dan air dingin serta meletakkan di kepala Mala. Setelah itu ia mencoba menelfon Sarjuli Karena hanya dia yang terlintas di kepalaku.

“Hallo… assalamualaikum wr. wb ini Sarjuli ya?” tanya sopan.

“Iya hallo juga, wa’alaikumsalam wr. wb iya ini saya memang dengan siapa saya bicara?” jawabnya dengan bertanya kembali.

“Aku Tyas teman kost Mala boleh minta tolong tidak? Mala demam tinggi dan aku ingin membawanya ke Rumah sakit aku mau keluar cari taksi di sini jauh dari jalan raya sehingga akan lama kalo aku jalan kaki sedangkan aku tidak ingin meninggalkan Mala sendirian. Boleh minta tolong antar aku ke Rumah Sakit membawanya.” ucapku langsung tanpa basa basi gak jelas.

“Tunnggu di sana saya akan segera ke sana sekarang juga.” terdengar nada khawatir yang begitu kental.

Tak butuh waktu lama selang beberapa menit kini kita tiba di Rumah Sakit Jakarta Utara.

Ya Allah semoga teman hamba baik-baik saja.” doa batin Tyaz.

“Boleh nanya mba?” kata Sarjuli tiba-tiba.

Boleh silahkan.” jawab Tyas.

“Kenapa bisa demam, apakah Mala telat makan lagi?” tanya nya dengan raut yang begitu cemas.

Saya gak tahu pasti soalnya setiap saya pulang kerja pasti bilangnya udah makan, jadi kita makan di kost jarang Mas Sarjuli.” kata Tyaz.

“Apakah mba Tyaz pernah lihat dia minum obat gak?” tanyanya kembali.

Gak Mas … setahuku Mala tipe gak suka minum obat kalau sakit jadi mana pernah mau minum kalau tidak di paksa nenek nya.” jawabnya Tyaz dengan wajah bingung.

“Terima kasih mba,… biar saya urus administrasi dulu mba.” yang di jawab anggukan kepala dari Tyaz.

Ternyata kamu tidak memikirkan tubuhmu Bi.” batin Sarjuli dengan raut kecewa akan sikap kekasihnya yang selalu acuh pada penyakitnya.

Setelah menunggu lumayan memakan waktu dokter keluar di ikuti suster-suster dari belakang.

“Bagaimana kabar nya dok?” tanya Sarjuli langsung begitu melihat dokter keluar.

Apakah anda keluarga pasien?” tanya balik kembali sang dokter.

“Ya… saya kekasihnya dan dia teman nya. Bagaimana dok keadaan kekasih saya?” kata Sarjuli cemas.

Ikut saya keruangan pak.” jawab dokter pergi berlalu yang di ikuti Sarjuli.

“Ya Allah apa yang terjadi dengan teman hamba?” cemas Tyaz di balik jendela.

“Sus… saya mau masuk boleh?” tanya nya ketika melihat suster keluar.

Maaf mba pasien belum sadar dan tidak bisa di ganggu karena saat ini pasien butuh istirahat penuh.” jawab suster.

“Sebentar saja sus boleh ya, saya mohon sus.” ucapnya dengan nada sendu berharap diperbolehkan.

Baiklah tapi ingat, sebentar saja ya mba!”

“Ya sus… terima kasih.”

Dengan perlahan ia membuka pintu dan duduk di samping tempat tidur Rumah sakit.

Kenapa Mal? Kenapa aku tidak tahu apapun yang kamu alami. Hiks… maafin aku Mal yang tak pernah tahu keadaan teman nya.” ucapnya dengan linangan air mata.

Sedangkan di ruangan dokter Sarjuli begitu tegang akan apa yang terjadi dengan kekasih.

“Bagaimana dok … kenapa kekasih saya?” tanya to the point.

Begini apakah bapak sudah mengetahui bahwa kekasih anda mengidap penyakit kanker otak?”

A… apa dokter becanda kan?” jawabnya tak percaya dan syok mendengar berita ini.

Tidak… saya serius kekasih anda mengidap penyakit kanker otak dan kini harus bertambah dengan lambungnya yang luka karena jarang terisi asupan makanan sehingga menyebabkan lambung semakin parah.” ujarnya di balik kacamata.

Lunglay sudah… betapa ia tak menyangka selama ini kekasih nya menyembunyikan penyakitnya.

Ya Allah apa lagi ini UjianMu… belum selesai masalah satu kenapa harus ada lagi dan lagi.” batin nya frustasi.

Dengan langkah gontay Sarjuli berjalan ke ruangan di mana Mala dirawat.

Dari arah depan ia melihat temannya sedang menunduk sedih.

“Bagaimana, apakah Mala baik-baik aja kan Mas Sarjuli?” tanya Tyaz langsung begitu Sarjuli tiba.

Aku harus bagaimana apa aku harus berkata juju tapi ah sudahlah lebih baik aku jujur.” batin Sarjuli.

“Mala… mengidap penyakit kanker otak.” jawabnya sekali tarikan napas.

“A… a apa gak mungkin, bagaimana bisa. Sudah berapa lama?” tanya Tyaz tak percaya.

“Sudah 4 bulan ini dan selama ini dia gak pernah ke dokter ataupun minum obat sehingga-arghhh rasanya aku begitu bodoh sebagai kekasihnya tidak tahu kondisi kekasihnya.” jawabnya frustasi.

“Astagfirullah… kenapa dia tidak cerita. Hiks… akupun sama merasa bodoh sebagai teman.” ucap Tyaz.

Sarjuli yang tidak bisa melihat wanita menangis mengelus lembut kepala Tyaz dalam jarak yang begitu dekat sehingga dari samping terlihat memeluknya.

Tanpa mereka sadari ada seseorang yang merhatikan mereka dengan senyum jahat, dan memotret kejadian itu.

Hahaha… rasain kalian, jika aku gak bisa miliki Sarjuli maka gak boleh ada satupun yang memilikinya.” ucap orang yang di balik dinding dengan seringai jahat.

Setelah mendapatkan bukti untuk rencananya, ia pergi dengan senyum lebar bahwa ia yakin rencana nya berhasil.

“Maaf Mas Sarjuli saya harus bekerja, saya titip jaga Mala ya insya Allah saya akan menjenguknya lagi sepulang kerja. Maaf banget soalnya saya sudah telat… permisi Assalamu’alaikum wr. wb.” pamitnya.

Iya, makasih sudah menelfon saya. Wa’alaikumsalam wr. wb.” jawab Sarjuli tulus. Karena jika Tyaz tidak menelfon nya ia tidak akan tahu semuanya.

Setelah kepergian Tyaz, Sarjuli masuk ke ruangan dengan pandangan yang sulit di artikan. Antara marah dengan dirinya dan kecewa dengan kekasihnya yang tidak berkata jujur akan kondisinya.

“Kenapa Bi… kenapa kamu sembunyikan ini semua dari kami, betapa hancur rasanya saat aku tahu kekasihku sakit dan aku baru mengetahuinya. Rasanya aku ingin teriak bahwa aku gak becus jadi kekasihmu Bi.” ceritanya yang tanpa sadar air matanya menetes jatuh ke tangan Mala yang tidak di infus.

Tanpa Sarjuli sadari kini mata itu terbuka secara perlahan dengan pandangan masih kabur, buram belum terlihat jelas.

“Heumm.” dehem nya dengan susah payah karena tenggorokannya terasa begitu kering banget.

“Bi kamu udah sadar… sebentar Mas panggilkan dokter.” ucapnya gembira dan berlari.

Setelah selesai semua dokter keluar dengan lega.

“Bagaimana dok?”

“Alhamdulilah ia sudah siuman hanya saja jangan paksakan untuk banyak bicara ia mesti harus banyak-banyak istirahat.” ujar dokter dan pergi berlalu.

Syukurlah… alhamdulillah ya Allah, Engkau beri hamba kesempatan.” ucap Sarjuli.

“Mas di mana ini?” tanya Mala begitu melihat Sarjuli masuk ruangan.

Di Rumah Sakit sayang, jangan banyak bicara dulu ya. Sekarang Bi istirahat Mas nyanyiin lagu kesukaan Bi ya, biar bisa tidur sayang.” jawabnya mencoba alihkan agar ia tak banyak bertanya.

“Okey… Makasih sayang. Mas jangan pernah tinggalkan aku ya.”

“Gak akan pernah sayang, I love you Bi.”

“Janji.” ucapnya dengan mengacungkan jari kelingkingnya.

“Janji, udah bobok oke.” yang di jawab anggukan dan senyum.

~ Good Bye-Air Supply~

I can see the pain living in your eyes.

And l know how hard you try.

You deserve to have so much more.

I can feel your heart and I sympathize.

And l’ll never criticize.

All you’ve ever meant to my life.

I Don’t want to let you down.

I Don’t want to led you on.

I Don’t want to hold you back.

From where you might belong.

You would never ask me why

My heart is so disguised.

I just can’t live a lie anymore.

I would rather hurt myself.

Than to ever make you cry.

There’s nothing left to say but good-bye.

You deserve the chance at the kind of love

I’m not sure I’m worthy of

Losing you is painful to me.

~

“Maafkan aku sayang, yang belum bisa menjagamu dengan baik dan membuatmu bahagia.”

Terkadang memiliki tak sepenuhnya memiliki segalanya, sebab keutuhan ada saat kita tahu kekurangan.

Hari berlalu, malam berganti pagi dan pagi berganti siang seterusnya arus itu sampai waktu terhenti.

Ketika mentari tak lagi terang sebab tertutup awan hitam kini menjadi mendung bagai tak bertuan awan.

Sama hal nya dengan gadis yang sedang menikmati secangkir kopi kala hati nya mendung.

“Kenapa Mal?” tanya Tyaz dari dalam kamar dan ikut duduk disamping Mala di teras depan.

“Gpp kok hanya saja aku mulai takut kehilangan Sarjuli bahkan aku sudah melupakan Nanang, tapi entah kenapa aku merasa takut kehilangannya.” jawabnya dengan pandangan fokus ke hujan.

“Berdoa aja semoga ia tetap menjaga arti kesetian walau jauh di sana, lagian bagus dong itu tandanya kamu makin mencintainya.”

“Iya kini aku bahkan gak mau kehilangan dia, semoga aja ia selalu mengingatku di sana dan tetap setia.” jawab nya senyum cerah.

Oh ya aku lupa, gue hari ini berangkat nanti jam 16:20 wib. Ke Jawa.” ucapnya baru ingat.

“Sama siapa Mal?” tanya Tyaz berjalan mengikuti Mala yang kini sibuk sendiri.

Sendiri … aku pergi dulu aku ada yang mau aku beli di Mall bye Yas.” ucapnya ngeloyor begitu saja.

“Semoga bahagiamu bukan hanya saat ini tapi nanti dan seterusnya Mala.” kata Tyaz.

Terkadang apa yang pertama kita rasakan belum tentu kita bisa merasakannya seterusnya.

Di Mall Mala berjalan masuk kebagian Toko baju karena ia ingin membeli oleh-oleh baju untuk keluarganya.

“Hai… kamu Mala kan?” sapa seorang wanita berambut pirang dengan pakaian minimnya.

“Wa’alaikumsalam wr.wb… iya ada yang bisa saya bantu mba?” jawab Mala sopan dan halus.

“Apa kamu kenal Muhammad Sarjuli Al Farizi ?” tanya gadis itu to the point.

“Ya… itu pacarku mba kenal dari mana? memang kenapa mba?” tanya balik Mala.

“Masalah aku kenal dia dari mana urusan nanti sekarang aku mau bahas perlu denganmu.” ucapnya dengan tampang sok bersahabat.

“Baiklah mari kita bicarakan di Café, mba agar lebih bebas.” “Baiklah.” jawabnya acuh.

Aku gak peduli mau ngobrol di mana asal aku bisa bicara denganmu dan membuat hubunganmu hancur hahaha … aku gak akan biarin kalian bahagia.” batin gadis itu.

“Silahkan mba… mau pesan apa?” tanya Mala sopan.

“Gak usah oke to the point ya aku gak mau basa basi, begini apa kamu tahu selama ini Sarjuli dekat dengan wanita lain.”

“Maaf mba, atas dasar apa menuduh pacar saya. Dan dari mana mba tahu kalo pacar saya dekat dengan yang lain.” kata Mala tak percaya.

“Nih kalo loe gak percaya, permisi.” ucapnya dengan melempar beberapa lembar foto dan pergi begitu saja.

Sedangkan Mala geleng-geleng kepala melihat orang itu datang dan pergi gak mengucap salam.

Dengan hati dag dig dug ia mengambil lembar-lembar tadi yang di lempar gadis itu dan melihatnya.

“Astagfirullah… ternyata.” syoknya begitu melihat foto-foto itu.

Setelah menyimpannya kedalam tas ia pergi dengan tatapan yang sulit diartikan.

Setibanya di rumah ia berkemas dan merapikan kamar setelah selesai ia menulis surat terakhir untuk orang yang pernah ia anggap sahabat sejati kini hanya orang lain baginya.

Dear Tyaz.

Kenapa?

Kenapa kamu tega denganku, kenapa disaat aku mencintainya dan tidak mau kehilangannya kamu malah ada hubungan dengan nya Yas?

Aku kecewa Yas… aku sudah menganggapmu sahabat tapi kini arti itu terpecah belah menjadi kekecewaan.

Selamat ya.

Semoga kalian bahagia, aku sudah anggap hubunganku dengan Sarjuli berakhir kok. Jadi kalian bisa menjalin tanpa di belakangku.

Semoga kalian sampai kejenjang pernikahan… amin.

Aku pamit… aku gak akan kembali.

Assalamu’alaikum wr. wb.

Salam by

Mala Al Syifa Biankara.

Setelah menulis ia melipat dan meletakkan di samping tempat tidur.

Mungkin inilah yang dinamakan hidup tak selalu bahagia berpihak pada kita sebab ada kala ujian dalam hidup untuk lebih mengerti arti kesabaran.

Mencintai tak selamanya bisa termiliki sebab takdir rezeky dan jodoh sudah diatur Allah.

Mungkin saat ini ujian akan tetapi bisa saja besok kebahagian menanti. Tamat.

(Visited 13 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Maula Nur Baety

Alamat: Kota Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten Brebes, Kecamatan Bulakamba. Desa Banjaratma, Gg. Batara 2. RT. 04 RW. 09. No HP: 0858 1385 9785 Facebook: Maula Nur Baety Email: malafebriyani20@gmail.com WhatsApp: 0831 2793 7016 Remaja berumur 21 tahun, suka menulis sejak sekolah dasar, menerbitkan cerpen dan puisinya di berbagai media.www.penulis cerpen.com. www.majalah simalaba.com. dan dibukukan di berbagai event. "Mencoba berusaha menjadi seorang seniman. Dalam bidang sastra. Menyukai puisi."_Sajak Febriyani.

Check Also

Assalamualaikum Cinta

Terlalu dangkal untuk menggapaimu, senja. Bahkan terlampau jauh untuk merengkuhmu, merasakan hangatnya pancaran sinarmu. Tempatmu …

Cinta dan Ego (Series Ke-2 Cerpen “Perpisahan Sebuah Sahabat)

Diperbatasan jalan setapak ini yang penuh ilalang dan halaman luas serta bunga bermekaran dimana-mana. Terlihat …

Seorang Pendosa & Gadis Belia

Di sebuah club ternama di Ibu kota Jakarta. Seorang pria yang berpakaian sangat kacau. Duduk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *