Breaking News
Home > Cerpen Cinta > Say Good Bye

Say Good Bye

Disaat sang fajar telah tiba, embun yang tertegun di atas dedaunan yang tampak segar, udara sejuk menyambutku dengan penuh senyuman. Hembusan angin yang menyelimutiku tubuh menyapaku dengan lembut. Seakan semuanya tampaka merekah dengan senyum lebar penuh keceriaan.

Semangat membara dihati telah tertanam begitu erat. Ku mulai langkahkan kaki tuk menuju tempat mencari ilmu, yang tak lain adalah sekolah. Yap, disana aku dapat berinteraksi dengan warga sekolah, dan disana juga tempatku bertemu dengan Sang Pangeran Cinta yang saat ini aku menjalani hari-hari dengannya.

Langkahku terhenti disaat kulihat sepeda motor yang parkir dihadapan rumahku. Perasaanku serasa terbang melayang tinggi melihat Reno Sang Pangeran Cinta berdiri dipinggir motor yang terpakir disana.

“Reno, kamu tumben kesini, buat jemput?” tanyaku. Reno hanya menganggukan kepala member isyarat.

“Kamu kenapa? Sakit?” tanyaku khawatir dan mendaratkan telapak tanganku di keningnya. Aku sangat menghawatirkannya, karena sikapnya yang tak seperti biasanya.

“Sayang kamu sakit? Iya? Kenapa maksain buat jemput aku?” tanyaku lagi dengan nada lembut.

“Ayo!!” Suara pelannya menyuruhku segera menaiki motornya.

Di sepanjang perjalanan dia tak menjawab pertanyaanku sama sekali, aku heran padanya, “Ada apa dengannya? Dia kenapa?” beribu-ribu pertanyaan berlarian dibenakku. Dia tetap mencuekanku, bahkan setelah sampai di sekolah dia langsung berjalan menuju kelasnya tanpa menyapaku.

“Ren? Tunggu!” teriakku memanggilnya, tapi dia tak menengokku sekedi matapun.

Aku heran dengannya, aku taku terjadi apa-apa sama dia.

“Rik, kenapa si Reno? Kalian berantem?” tanya Ida padaku yang tengah mengejar Reno. Aku tertegun sebentar mendengar pertanyaan Ida padaku. Aku terus mengingat-ingat kesalahanku padanya, tapi aku tak tahu apa yang membuat dia begini padaku. Sungguh, hari ini yang diawali keceriaan dan senyuman indah dari alam, kini telah melebur disaat Reno bersikap dingin padaku. Kini udara sejuk menjadi seakan membuat gerah. Embunpun kian meninggalkanku.

“Wooy, ko bengong?” teriak Ida. Dia mengagetkanku dengan nada kerasnya.

“Ngagetin aja kau,” kataku. Ida telah menghentikan pikiranku tentang Reno.

“Lagian aku tanya malah bengong aja,” gerutu Ida padaku.

Seusai sekolah, aku terdiam dibawah pohon rindang  pada sebuah taman, dan memikirkan akan semua sikap Reno yang berubah drastis. Kedatangan Reno membuatku terdiam membisu. Reno menghampiriku dengan wajah seperti dia sedang sakit, dia sangat dingin terhadapku, dia hanya menghampiriku tanpa bertanya apapun.

“Kamu kenapa sih Ren, kenapa?” aku memulai percakapan dengan nada pelan. Dia hanya menggelangkan kepala dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.

“Aku gak suka kaya gini Ren, aku sayang sama kamu,” jelasku padanya, membuat dia meneteskan air matanya, dia langsung pergi meninggalkanku sendiri. Aku mengejarnya berlari tak memperdulikan bahaya yang akan terjadi.

“Braakk.” Aku tersandung akar pohon saat mengejar Reno.

“Auuww,” teraikku. Suaraku yang kesakitan membuat Reno membalikkan badannya. Dia melangkah sedikit, kukira dia akan menghampiriku, tapi tidak, dia malah meninggalkanku seorang diri, gadis yang malang ditinggal begitu saja oleh Sang Pangeran Cinta. Akupun pulang dengan keadaan serba sakit, serba hancur. Tak ada lagi yang membuatku tersenyum dikala Reno mendiamkan aku dalam pahitnya cinta.

“Tokk tokk tokk,” seseorang mengetuk pintu kamarku.

“Siapa?” tanyaku. Aku terbangun dari lamunanku.

“Ini aku Ida,” jawabnya yang masih berada dibalik pintu. Aku langsung membukanya dan memeluk Ida sambil menangis.

“Kenapa Rik?” tanyanya lembut.

“Reno Da, Reno,” jawabku meringis.

“Aku tahu ko Rik, makanya dia suruh aku kesini buat lihat keadaanmu, dia sudah cerita banyak sama aku,” jelas Ida. Aku menghapus tangisku, Ida mencubit pipiku dengan manja.

“Apa, aku gak salah denger? Kamu gak bohong kan?”

“Ya udah, jadi aku gak disuruh masuk nih?”

“Oh iya lupa, ayo kita masuk.”

Aku dan Ida bercerita tentang Reno tanpa hentinya. Mengingat-ingat akan dahulu kala aku dan Reno mulai pendekatan, mengingat itu, membuatku terus-terusan berlinang air mata. Tak kuasa ku menahan kesedihanku, Reno mencampakanku dengan sebegitu mudahnya dia lakukan tanpa memikirkan hati yang tersakiti.

“Oh ya, btw kamu tahu Reno mau pindah?” tanya Ida.

“Pindah? Aku belum tahu Da,” jawabku.

“Ibunya bilang si, dia mau pindah ke Surabaya,” ujar Ida, mengagetkanku. Aku tertegun dengan pernyataannya.

Aku ingin segera mendatangi dia, tanpa berpikir panjang aku langsung berlari tanpa mempedulikan kesakitanku untuk menuju rumah Reno. Langkahku terhenti disaat Reno menaiki mobilnya. Aku menghampiri mobil itu dan berdiam tepat di depan mobil Reno tuk mencegah kepergiannya. Reno keluar dari mobilnya dan seakan dia tak mau melihatku lagi. Aku mengejarnya dengan menangis tersedu-sedu dan memeluk erat tuk yang terakhir kalinya.

“Kamu kenapa si ninggalin aku? Aku gak mau kaya gini Ren, aku sayang sama kamu.” Reno melepas perlahan pelukanku. Dia melangkah pergi dan menaiki mobilnya lagi. Aku sangat rapuh saat itu, bagaimana tidak, aku sangat mencitainya dengan seluruh jiwa dan nafasku. Aku terdiam membisu dan menangis histeris dengan caranya yang tak wajar.

Reno berlari turun dari mobil dan memelukku erat.

“Maaf, maafin aku Rik, aku harus pergi.”

“Tidak, kamu tidak boleh pergi.”

Reno memegang kepalaku penuh cinta.

“Dengar Rik, sikap aku yang kemarin-kemarin itu sandiwara, biar aku bisa belajar jauh darimu, aku gak bisa LDR-an sama kamu, maafin aku,” jelas Reno padaku. Dia meninggalkanku, aku menarik tanggannya.

“Reno, aku selalu mencintaimu lebih dari luka bodyku, aku susah tanpamu,” ujarku.

“Good bye Rik, terima kasih atas segalanya, cintamu, sayangmu dan perhatianmu. “Good bye too Reno, thank you for everything, I always waiting for you.” Reno langsung menaiki mobilnya dan mobil itu melaju sangat cepat. Sedikit demi sedikit mobil itu telah hilang dari penglihatanku.

(Visited 12 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Syifa Mawadah Elpasya Symes

"Hallo Guys! Namaku Syifa Mawadah Elfasya. Aku Kelas X Jurusan TPHP. Aku tinggal di Cianjur loh. Aku sangat suka menjadi Penulis dengan sedikit kemampuanku ini.

Check Also

Indahnya Masa Sekolah

Nama ku Dinda Sari, ya teman-temanku selalu memanggilku Sari, dan ada juga yang iseng memanggilku …

Berharap Lebih Menyakitkan

Terlihat seseorang yang tengah berjalan disebrang jalan sana. “siap dia? Melihatnya aku tak mau memalingkan …

Dampak Demam Gadget

Aku seorang remaja yang berusia 17 tahun. Aku sangat suka dengan bermain gadget seharian, tak …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *