Breaking News
Home > Cerpen Motivasi > Sepenggal Cerita di Sumpur Kudus

Sepenggal Cerita di Sumpur Kudus

Terlihat Dirman mondar-mandir seperti siap menerima perintah perang dari komandannya. Wajahnya dipenuhi dengan kegelisahan. Sekali lima menit ia berjalan keluar dan memandang jauh ke ujung jalan. Sepertinya ada seseorang yang sedang ia tunggu, tapi entah siapa. Mungkin hanya Dirman yang tahu.

Kini Dirman kembali duduk di atas kursi yang dilengkapi dengan meja persegi panjang yang tidak begitu besar. Di atas meja tersebut dihiasi bunga berwarna merah yang sedikit berkabut, mungkin jarang dibersihkan pemiliknya. Di sana juga terdapat telpon keluaran lama berwarna hitam. Di dalam ruangan yang tidak begitu besar itu dipenuhi dengan perlengkapan perang. Di dinding ruangan tergantung rapi foto-foto pahlawan seperti; Soekarno, Hatta, M. Yamin, Syafruddin Prawiranegara dan beberapa foto yang tidak begitu jelas karena fotonya telah usang dan samar-samar. Konon dengar kabar dari warga setempat bahwa Dirman adalah salah satu keturunan pejuang perang tahun1949. Pada masa itu pemerintahan republik Indonesia dalam situasi genting. Setelah melaksakan rapat secara singkat, Soekarno menugaskan Syafruddin Prawiranegara untuk berangkat ke daerah yang sulit terakses jalannya. Tujuan yang akan dituju oleh Syafruddin berserta rombongan adalah desa Sumpur Kudus.

***

Cuaca mendung. Awan menggumpal di langit yang sudah siap untuk melimpah ruahkan  bulirnya. Pagi itu banyak burung-burung berebutan putik bunga jambu yang sedang mekar. Tupai pun tidak mau ketinggalan mencari makan untuk tetap bertahan hidup. Hiruk pikuk kehidupan di atas pohon jambu tersebut tidak luput dari pantauan Yasnur. Yasnur berjalan gontai menuju pohon jambu tersebut sembari mengusap matanya, terbesit senyum simpul dibibir mungilnya.

“Yasnur, mau ke mana?” Sahut Ibunya.

“Lihatlah, Bu! Banyak burung yang cantik di atas pohon jambu kita.”

“Biarlah, Nak. Mereka sedang mencari makan untuk bisa bertahan hidup.”

“Aku ingin menangkap burung itu, Bu.”

Keinginan Yasnur terhenti saat Ibunya datang menghampiri, Ibunya menjelaskan tidak baik menangkap burung-burung tersebut. Mereka juga ingin hidup seperti kita. Yasnur hanya terpaku diam, tidak begitu paham apa yang disampaikan Ibunya. Anak yang masih berumur 5 tahun dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Hasrat ingin memiliki yang kuat.

Petir keras memekakkan telinga. Awan tebal yang mengandung bulir air kini telah turun membasahi bumi. Yasnur hanya bisa mengintip hujan dari celah jendela kecil rumahnya, mengamati dengan penuh tanda tanya. Dari mana turunnya hujan? Siapa yang menurunkan air yang begitu banyak tersebut? Apakah benar ada raksasa yang sedang menangis di atas sana? Anak kecil yang belum banyak tahu tentang siklus alam. Anak kecil yang beribu rasa ingin tahu.

Hujan semakin deras. Terlihat air mengenangi halaman rumah kecil Yasnur. Rumah yang semi permanen, separuhnya terbuat dari semen dan selebihnya dari kayu pilihan yang dibawa dari dalam hutan Sumpur Kudus. Rumahnya yang berdiri kokoh di atas bukit di salah satu kampung tersebut. Penuh dengan kesan sederhana. Di depan rumah tersebut ditanami berbagai tumbuhan; pohon jambu, mangga, dan beberapa bunga yang begitu cantik. Keasrian pedesaan yang menyejukkan jiwa. Jika berdiri di pintu rumah tersebut dan memandang ke depan, terhampar tumpak sawah yang berbaris rapi serta aliran sungai yang berliku dan memanjang melengkapi keindahan alam desa itu.

Pagi itu tidak banyak aktifitas yang sempat dilakukan oleh penduduk di sana. Pada umum penduduk bermata pencarian bertani. Hujan menghalangi mereka untuk menyadap karet dan mengolah sawah. Jika hujan turun, biasanya mereka menghabiskan waktu untuk beristirahat di rumah masing-masing. Bergurau dengan anggota keluarga. Menenun tikar dari pandan bagi kaum ibu-ibu. Mempersiapkan segala peralatan bertani bagi kaum bapak. Serta Meraut dan memperbaiki tangkai cangkul yang sudah kurang bagus.

“Pak, boleh Yasnur mandi hujan?”

“Jangan! Nanti kamu sakit, Nak!”

“Yasnur kan sudah besar, Pak. Kenapa tidak boleh?”

“Mandi hujan tidak baik. Air hujan yang turun adalah air mata dari raksasa yang sedang bersedih. Nanti raksasanya bisa marah”

Tiba-tiba bulu roma Yasnur merinding. Rasa takut dan ingin tahu tentang ucapan Bapaknya tersebut memuncak. Segera ia berhamburan ke dalam pelukan Bapaknya. Bapaknya merangkul anak semata wayangnya dengan penuh cinta, membelai kepala Yasnur dengan lembut sambil bercerita tentang raksasa tersebut.

Akhirnya Yasnur tertidur. Di luar sana hujan sudah mulai reda. Awan tebal sudah beranjak pergi menyisakan bercak-bercak air di sepanjang jalan. Matahari sudah mulai menampakkan wajahnya. Warga sudah mulai turun dari rumahnya untuk pergi ke ladang atau ke sawah. Bapak Yasnur kali ini enggan untuk pergi ke sawah, mengingat anaknya belum kunjung bangun. Ia berkeinginan mengajak anaknya untuk pergi ke lapangan bola nanti malam. Kabarnya pemuda akan mengadakan sebuah acara.

***

Seusai maghrib berangkatlah Yasnur dengan kedua orang tuanya menyaksikan acara di lapangan bola di kampungnya. Malam tersebut ada pertunjukan Talempong Unggan. Talempong Unggan sangat unik. Terdiri dari talempong terbuat dari kuningan (mirip dengan gamelan di Jawa) yang diletakkan di atas wadah terbuat dari kayu, dengan alat musik pengiring yang lain berupa dua gendang dan satu gong. Seni tradisional Talempong Unggan dimainkan empat orang yakni, satu pemukul talempong, dua pemain gendang dan satu pemukul gong.

Lagu-lagu Talempong Unggan juga khas, tidak ada di tempat lain. Penamaan lagu berasal dari alam misalnya, Ramo-ramo Tabang Tinggi, Pararakan Kunto Ramo Tabang Tinggi, Pararakan Kunto dan lain-lain. Konon dulunya, Talempong Unggan memiliki kekuatan gaib yang masyarakat setempat menyebut “Pitunang”. Setiap orang yang mendengar suara merdu Talempong Unggan, akan tersentuh dan jatuh hati.

Yasnur duduk di pangkuan Ibunya sambil memerhatikan pemain Talempong Unggan  mempereragakan kelihaiaan. Sungguh penuh penghayatan pemain itu melaksanakan tugasnya. Membuat Yasnur terkesima sembari tersenyum-senyum sendiri.

“Ibu, nanti jika aku besar ingin menjadi seperti bapak yang di sana.”

“Iya, nak. Cepat besar ya. Selalu mendengarkan pituah Bapak dan Ibu.”

“Yasnur sudah besar. Lihatlah, badan Yasnur besar.”

Dengan penuh percaya diri Yasnur memperagakan tubuhnya kepada Ibunya. Seolah-olah seperti orang dewasa saja. Ibunya tersenyum dan memeluk erat tubuh kecil si buah hatinya. Sungguh bersyukur dianugerahkan seorang anak yang pintar dan penurut. Malam telah larut. Penampilan Talempong Unggan telah usai. Yasnur sudah tertidur pulas. Ibunya menggendongnya pulang.

Esok paginya berjalan dengan semestinya. Yasnur terbangun dengan wajah yang ceria. Masih tersisa kebahagian semalam. Ia masih mengingat pertunjukan yang diperankan oleh empat orang tersebut. Terdengar sayup-sayup suara dendang keluar dari mulut Yasnur. Ia mencoba meniru-niru nyanyian yang telah didengarkannya tadi malam. Cuaca cerah pagi itu, sangat mendukung untuk beraktifitas bagi sebagian besar penduduk yang menggantungkan hidupnya bertani. 

Umbul-umbul bendera merah putih berkibar  pada tiang setiap halaman rumah warga. Spanduk merah putih pun membanjiri sepanjang jalan. Remaja pun sudah sering berkumpul, entah apa yang mereka rundingkan. Lapangan kemerdekaan juga terlihat ada yang membersihkan. Desingan mesin rumput terdengar dari sana. Bapak bertopi kuning dan memakai baju hijau lengan panjang, dengan dua temannya sibuk dengan kegiatannya. Batang pinang di dekat rumah ada yang menebangnya, tidak tahu maksud serta kabar beritanya. Di atas meja ada sebuah surat. Tertulis pengirimnya Wali Nagari Sumpur Kudus. Tapi isi amplopnya tidak ditemukan. Mungkin Ibu atau Bapak sudah membaca dan menyimpannya. Penuh tanda tanya atas isi di dalam amplop tersebut. Suasana di kampung pun berbeda dari hari-hari biasanya. Aneh.

***

Banyak warga bersorak sorai menyoraki sekelompok pemuda yang tengah berpacu memanjat pinang yang sudah dikuliti dan dibaluri oli. Sampai detik ini belum ada yang sanggup mencapai puncak dari pohon pinang tersebut. Sudah beberapa kali sekelompok pemuda bergiliran mendapatkan jatah untuk menaklukkan pohon pinang tersebut. Dan mencoba mengambil hadiah yang digantung di puncaknya.

Siang itu Yasnur beserta keluarganya ikut menyaksikan lomba panjat pinang yang diadakan pemuda desa tersebut. Lapangan itu dibanjiri oleh warga kampung Sumpur Kudus. Yasnur memang sangat senang dengan acara yang berbau keramaian, Ia akan tersenyum-senyum sendiri di dalam pangkuan Ibunya. Menyimak setiap kejadian yang tersaji di depan matanya. Sesampai di rumah, Ia akan mengajukan beberapa pertanyaan yang membuat kedua orang tuanya kebingungan untuk menjawabnya. Atau Ia akan bercerita panjang lebar atas pengalaman yang barusan didapatkan. 

“Hai… itu curang.” Suara seorang pemuda menggema di antara gerumunan.

“Iya, tidak boleh memakai kain bekas untuk menghapus olinya.”

“Panitia tidak ada menegaskan kalau dilarang membersihkan oli di batang pinang menggunakan kain bekas” kelompok lain menjawab dengan tidak kalah lantangnya.

“Walaupun panitia tidak menyampaikan begitu. Tetapi itu adalah kecurangan.”

Proses panjat pinang menjadi ricuh. Sekelompok pemuda berdebat dengan sekelompok pemuda lainnya. Mereka saling menganggap pernyataannyalah yang paling benar. Panitia kewalahan menengahinya. Pemuda yang berbadan besar yang biasa di panggil Solihin maju ke depan gerombolan, mengacungkan tinju ke udara, berlagak seperti orang yang paling berkuasa. Melototi setiap pemuda yang bertentangan dengannya. Pemuda kelompok sebelah tidak terima atas apa yang disampaikan Solihin.

“Apa kamu merasa paling benar, Solihin?”

“Iya, memangnya bagaimana? Apakah kamu menantangku Roman?”

“Saya tidak bermaksud menantangmu. Marilah kita selesaikan masalah ini dengan kepala dingin!”.

“Apa? Panitia saja tidak menjelaskan peraturan bahwasannya dilarang membersihkan oli menggunakan kain bekas. Terus apa maumu, Roman?”

Suasana semakin panas. Kedua belah pihak yang bersiteru saling tidak mau mengalah. Solihin sudah hilang akal sehatnya. Ia bergegas menghampiri Roman sembari melayangkan tinjunya ke arah Roman. Tanpa bisa mengelak, Roman terpental. Roman segera berdiri dan mengambil ancang-ancang untuk membalas, menggempalkan tinjunya erat-erat. Berniat menyerang Solihin. Tiba-tiba lelaki berbadan tegap dan bermata teduh menepis pukulan Roman. Kemudian merangkul tubuh Roman hingga tidak bisa bergerak lagi. Panitia juga turun tangan untuk mengamankan Solihin. Roman dan Solihin kini telah diamankan. Mereka dibawa ke tenda panitia.

“Apakah dengan cara ini kalian memperingati hari kemerdekaan? Jawablah Solihin dan Roman!” Lelaki tegap dan kekar yang biasa di panggil Dirman itu berucap.

“Tidak, Uda. Cuma saya terbawa suasana” Roman menjawab seadanya.

“Kalau kamu kenapa berteriak-teriak seperti itu, Solihin? Sampai-sampai kamu juga memukul Roman. Apakah itu cara  pejuang mengajarkan kita mengisi kemerdekaan ini?”

“Tidak, Uda. Maafkan saya!”

Semua permasalahan sudah terselesaikan. Mereka saling memaafkan. Peserta panjat pinang serta penonton telah berhamburan kembali ke rumahnya masing-masing. Acara memperingati kemerdekaan berakhir begitu saja.

***

“Kenapa orang tadi berkelahi, Pak?” Yasnur memasang wajah penuh tanda tanya.

“Bapak-bapak tadi salah paham, Nak. Mereka mudah terbawa emosi. Nanti kalau kamu sudah dewasa jangan pernah mengisi hari kemerdekaan dengan kekacauan seperti itu.”

“Siap komandan.”

“Yasnur, apakah kamu mau mendengarkan cerita, Bapak?”

Tanpa menjawab dengan lisan, Yasnur langsung mengiyakan pertanyaan Bapaknya. Mulailah Bapaknya bercerita dengan penuh perasaan.

Dulu, sebelum Soekarno dan Hatta ditangkap oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948. Mereka sempat mengadakan rapat dan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan sementara. Pemerintahan tersebut diberi nama Pemerintahan Darurat Republik Indonesia yang dikenal dalam sejarah yaitu PDRI.

Penyelenggara pemerintahan Republik Indonesia periode 22 Desember 1948 hingga 13 Juli 1949, dipimpin oleh Syafruddin Prawiranegara yang disebut juga dengan Kabinet Darurat. Pada tanggal 5 Mei 1949 rombongan PDRI Syafruddin, secara lengkap tiba di Calau, Sumpur Kudus. Rombongan PDRI meninggalkan Bidar Alam dengan naik perahu dan berjalan kaki melalui nagari-nagari antara Abai Siat, Sungai Dareh, Kiliran Jao, Sungai Betung, Padang Tarok, Tepus, Durian Gadang, Manganti dan akhirnya tiba di Calau, Silantai, Sumpur Kudus.

Di Calau, Sumpur Kudus rombongan Syafruddin Prawiranegara tinggal di Surau Balai dan Rumah Gadang. Sedangkan Surau Batu Banyak yang terletak di tepi Batang Sami, dipergunakan sebagai tempat radio atau sender PDRI

Pada tanggal 9 Mei 1949, rombongan Syafruddin Prawiranegara meninggalkan Calau, menuju Sumpur Kudus. Setelah menempuh sekian lama perjalanan, rombongan tiba di sebuah dataran tinggi. Saat itu anggota rombongan dipecah menjadi tiga bagian. Syafruddin Prawiranegara ke Nagari Silantai, rombongan Keuangan ke Nagari Padang Aur dan nagari-nagari lain sekitarnya. Di Daerah Ampalu, kru Stasiun Radio AURI bertemu dengan Kru Stasiun Radio PTT di Nagari Tamparunggo, Sungai Naning dan nagari-nagari lain. Sejak saat itu, kegiatan Stasiun Radio Dick Tamimi semakin intensif. Begitulah cerita Bapak Yasnur dengan semangat yang membara. Tanpa ia sadari anak yang tersayang sudah tertidur pulas di dalam pelukannya. Bapak Yasnur mengusap kepala Yasnur penuh kasih. Lalu, menggendongnya ke dalam kamar. Kemudian menidurkannya di atas dipan.

(Visited 19 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Redovan Jamil

Lahir Padang Benai, 10 Mei 1993. Fb Redovan Jamil serta e-mail redovanjamil1993@gmail.com. Alamat Mushalla Al-Ikhlas, Jln Berok Raya, RT 04/03 Nanggalo, Padang. Kontak 085265781291. Karya saya pernah dimuat di koran Medika kampus STKIP PGRI Sumatera Barat, Rakyat Sumbar, website geram.ga. com, website Buanakata.com, website Riaurealita.com. Aktif dan menjadi pengurus di komunitas kepenulisan Daun Ranting. Alumnus STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Perihal menulis; terapi rasa dalam bait-bait kata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *