Breaking News
Home > Cerpen Islami > Suara Merdu Itu Merubahku

Suara Merdu Itu Merubahku

Hari itu pada saat ulang tahunku yang ke 18 tahun, aku merasa seiring bertambahnya umur akan ada sesuatu yang baru yangn akan aku jalani, entah itu dalam bentuk kesenangan atau kesedihan, entah akupun tidak tahu, tapi yang jelas jika umurku semakin bertambah itu berarti aku semakin dewasa, wahhhhh,, sangat menyenagkan menjadi orang dewasa apalagi diumur ku yang ke 18 sekarang.

**Sore itu aku baru saja pulang les bahasa inggris, entah kenapa sehari sebelum ulang tahunku hingga sore itu saya selalu merasa ada yang kurang dari diriku terkadang aku merasa sedih, aku selalu bertanya-tanya dalam pikiranku sebenarnya aku ini kenapa, kenapa di umurku yang sekarang hanya kesedihan yang aku rasakan. Sambil menatap langit malam di jendela kamarku, tiba-tiba air mataku jatuh aku terkaget dan langsung cepat menghapus air mataku, “uhh, aku ini kenapa sih sedih mulu sedihin apa juga, toh ulang tahunku banyak yang mengingatnya banyak yang beri surprise, tapi kenapa aku malah jadi sedih dan merasa kesepian seperti ini sih”. Aku beranjak ke tempat tidurku. “ahh sudah jam 10 malam pantas aku sudah mengantuk tidur ah” sambil menarik selimut dan akupun terlelap.

**Pagi-pagi sekali aku berangkat ke sekolah entah kenapa aku tiba-tiba berangkat kesekolah pagi sekali, setelah sampai di sekolah, aku hanya membaca komik di mejaku “wahh pagi sekali kamu datang ada apa ni, belum ngerjain PR ya?? Tanya temanku Rika sambil ngusil. “PR apanya hari ini kan tidak ada PR sepertinya kamu sangat suka bila di beri PR yah” jawabku pada Rika. “eh Van bentar pulang sekolah kita ke mall yuk temani aku belanja yuk ayo dong mmm” sambil menggoyang-goyangkan lenganku. “ahh ia deh kamu kalo sudah ngajak pasti ngajaknya harus ia hmm”Mengiyakan ajakan temanku Rika. **Jam pulangpun sudah tiba semangatnya temanku Rika karena dia ingin shopping ke mall. “yesss akhirnya pulang juga waktunya shopping-shopping wuhhh” sambil menari-nari di depanku. Aku yang melihatnya jadi aneh “segitu sukanya yah kamu sama yang namanya shopping? Kenapa kamu tidak pacaran aja sama shopping” tanyaku sambil usil. “haha kalo shopping itu manusia mungkin aku sudah berpacaran dengannya sudah lama hahah” sambil tertawa pulas. Rika sambil memilih-milih pakaian aku hanya melihat dia yang sangat aktif memilih-milih baju aku hanya tersenyum saja melihatnya.

Rika adalah teman kecilku walaupun SMP kita sempat beda sekolah tapi SMA kami satu sekolah dan satu kelas, dia adalah sahabat dekatku sedihku senangku dia tau begitu pun dengan ku aku mengetahui segala tentangnya.

 “wahhh wahhh itu belanjaan atau apa Rik,, kebanyakan tau” sambil terheran melihat temanku Rika yang belanjaannya hampir sekarung. “heheheh tapi ini yang murah loh  tidak mahal kok, kamu tidak belanja yah Van kok dari tadi hanya mentap diriku saja belanja” tanya temanku Rika kepadaku. “entahlah Rik akhir-akhir ini aku sepertinya lagi sedang sedih tapi aku bingung yang aku sedihin tu apa tiap malam aku tiba-tiba aja nangis tanpa sebab terus aku kaya kehilangan sesuatu gitu tapi aku bingung apa” aku menceritakan semua yang kurasakan pada temanku Rika, tapi Rika juga bingung sambil menjawab “mungkin kamu kurang baca Qur’an kali” sambil tertawa. Aku hanya malah tambah kesal karena dia malah ngomong kaya gitu “ah kamu ini bercandamu sangat menjengkelkan, ah sudahlah ayo kita ke resto lapar nih” kami berdua pergi sambil menuju ke resto yang ada dekat mall, setelah kami selesai makan kamipun pulang ke rumah, setibanya di rumah aku hanya duduk terdiam dikamarku sambil mengingat perkataan Rika tadi siang. “kenapa aku malah teringat tentang perkataan Rika tadi uh Rika benar-benar sangat menyebalkan” sambil memukul bantal yang ada di pangkuanku.

**Siang hari panas terik matahari aku dan Rika yang pada saat itu sedang nongkrong di warung dekat mushala yang ada di sekolah. “waduuh panasnya sampai-sampai hausnya kebangatan ampun dehh” aku sambil memegang minuman dingin yang kutempelkan ke wajahku. “eh Rik bentar pulang sekolah anterin aku kerumah tante aku yah mama nitip barang ke aku nih nyuruh aku kasih ke tanteku,, mau yah? Sambil membuju Rika. “iya iya deh aku anterin”. Sambil nongkrong diwarung bunyi adzan Dzuhur pun berkumandang tiba-tiba saja aku terdiam seperti ada yang marahin aku seketika aku malah jadi sedih “Van kamu kenapa kok melamun sih?” tanya temanku Rika sambil memandangku, namun aku tidak seketika menjawabnya aku hanya terdiam sambil menatapnya, setelah beberapa lama terdiam tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat merdu dari mushala, aku mendengarkan baik-baik suara yang merdu itu seakan-akan jiwaku tenang tanpa ada kesedihan dan aku merasa nyaman mendengar suara merdu itu “eh Rik itu suara siapa yang ngaji di musahala?” tanyaku pada Rika dengan rasa penuh penasaran “oh itu suara ngaji si Wulan itu loh anak pindahan itu katanya sih dia hafidz Qur’an gitu bagus yah suaranya?”jawab Rika sambi memuji Wulan. Akupun berdiri menuju ke mushala dan menghampiri si Wulan yang pada saat itu sedang ngaji, aku duduk diam di sampingnya sambil menunggu dia selesai mengaji, setelah dia selesai mengaji dia menoleh kepadaku “eh kamu kok diam aja nggak ngaji?” tiba-tiba saja pertanyaannya membuatku terkaget, “ha?” aku hanya terheran mendengar pertanyannya “oh itu aku mau nanya sesuatu ke kamu Wul”tanyaku pada Wulan. “oh iya mau nanya apa?” jawab Wulan, dengan ragu-ragu akupun bertanya padanya “gini tadi paskamu ngaji akukan ada di warung dekat musahala ini terus pas dengar suara kamu ngaji tuh kok aku kaya tenang gitu jiwaku tu nyaman tapi tiba-tiba saja aku malah kaya ingin nangis gitu..itu kenapa yah?” Wulan yang pada saat itu malah balik nanya ke aku dengan pertanyaan yang membuat aku jadi malu dan sedih “kapan terakhir kamu baca Qur’an Van?” Tanya Wulan kepadaku, tapi aku tidak menjawabnya karena aku bingung aku hanya menatapnya saja “gini Van aku tuh senang baca Qur’an tuh pada saat aku masuk kelas 5 SD disitu aku sering bangat dengar abang aku ngaji kalo dia udah ngaji pasti aku diam entah itu lagi sedang main atau belajar, terus aku dengarin dia ngaji sampai selesai, pada saat itu aku memutuskan untuk mulai belajar ngaji, aku belajar ngaji di abang aku karena dia udah lumayan bagus ngajinya dan dia juga uda hafal 7 juz pada saat itu, aku sangat senang membaca Qur’an hingga pada saat itu abangku berpesan padaku, pesannya tu gini “adikku Wulan kesenangan mu membaca Al-Qur’an jangan berhenti sampai kamu lulus SD yah kamu harus lanjutin terus membacanya tapi bukan pada saat kamu sudah pintar ngaji terus kamu berhenti, Jangan! Kamu harus terus membaca hingga kematian menghampirimu, karena Al-Qur’an itu pedoman hidup umat islam dan akan menyelamatkanmu kelak” itu pesan kakakku dan sampai sekarang aku terus mengingatnya, kamu mau ta belajar membaca Qur’an bersama? Ajak Wulan kepadaku. Aku yang pada saat itu malah bingung tapi aku merasa aku sudah menemukan penyebab kesedihanku yang berlarut-larut pada saat itu, “gini Van kalo kamu mau belajar nanti kamu hubungin aku aja aku punya guru ngaji kok nanti kita belajar sama beliau saja, tapi saran aku mulailah dulu memperbaiki shalatmu jika shalatmu sudah kau perbaiki in syaa Allah semua akan mengikut kok, oh iya kalo bisa sih kamu pakai jilbab, perempuan muslim tu cantik kalo dia pake jilbab” saran Wulan kepadaku, aku yang pada saat itu jadi semangat untuk memperdalam agamaku yang memang sudah tidak pernah shalat dan aku tidak memkai jilbab dan aku merasa aku memluk agama islam karena kedua orangtua ku juga beragama islam tapi aku tidak tahu sama sekali dasar-dasar mengenai islam walaupun setiap minggu kami belajar pendidikan agama Islam.

**Lima hari telah berlalu sejak pertemuanku dengan Wulan di mushalla dan akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan jilbab ke sekolah dan keseharianku, pada saat itu hari minggu pagi aku yang entah kenapa bangun sebelum subuh dan aku memutuskan untuk menunaikan shalat subuh setelah selesai shalat subuh aku bercermin sambil memegang kerudung dan kupakaikan ke kepalaku “cantik juga yah aku kalo pake jilbab gini” kataku di depan cermin, pukul jam 7 pagi aku bergegas mandi dan menuju rumah Rika yang sebelumnya Rika sudah ku WA kalau aku mau ke rumahnya mau minta saran ke dia, karena berhubung dia juga bisa di bilang selalu shalat 5 waktu dan dia sudah berhijab sebelum aku, dia juga sering mengingatkanku untuk melaksanakan shalat tapi, aku tidak menanggapi perkataannya, sesampainya di rumah Rika aku langsung ke kamarnya “eh Rik aku ingin memutuskan ingin berhijab sama sepertimu bagaimana menurut mu??” tanyaku pada Rika “wahh bagus tuh, yahh akhirnya temanku yang hatinya sudah lama mati kini hidup kembali,, alhamdulillah semoga istiqomah yah sahabatku”ucap Rika yan memberiku selamat atas perubahanku. Pukul 8 pagi kami pergi ke mall untuk membeli perlengkapan pakaian hijabku ku beli segala kebutuhan ku akhirnya aku memantapkan hatiku untuk mulai berhijab dan memperdalam agama Islam.

**sebulan sudah atas perubahanku namun aku masih saja melupakan satu hal, yaitu tekadku yang ingin mulai memperdalam membaca Al-Qur’an pada saat itu aku menghubungi temanku Wulan dan Alhamdulillah di masih mau atas tawarannya yang mau ajarin aku mengaji, akupun bergegas ke rumah Wulan, setibanya di ruma Wulan, dia mengajakku masuk dan kebetulan guru ngaji yang di maksud Wulan sudah datang pada saat itu akupun mulai belajar Al-Qur’an dari cara bacanya, mengenal hurufnya sampai aku mulai menghafalnya. Hari demihari aku lalui dengan belajar membaca Qur’an hatiku yang dulunya tidak tenang dan selalu sedih kini sudah tidak kurasakan lagi semuanya terasa berbeda hatiku mulai tentram dan kebingungan yang selama ini menyelimutiku sudah tidak ada lagi, masya Allah inikah yang disebut dengan perubahan yang baik menuju pada ridho Allah. Aku, Rika, dan Wulan selalu mengikuti kajian-kajian islam yang selalu di adakan di salah satu kampus.

Al-Qur’an yang selama ini tak pernah ku sentuh kini sudah seperti buku komik andalanku yang sering aku baca, shalat 5 waktu yang dulu tak pernah kulaksanakan kini sudah menjadi kewajibanku layaknya seorang siswi SMA yang harus ke sekolah setiap harinya bila tidak sakit, pakaianku yang dulunya selalu terbuka kini sudah tertutup tanpa terbuka lagi demi menjaga kehormatanku sebagai wanita muslimah tutur kataku yang selama ini selalu kasar kini ku jaga agar tidak menyakit hati orang lain.

Al-Qur’an bagaikan surat cinta yang mampu mengubahku

Isi-isi di dalamnya bukan hanya untuk dibaca, namun untuk di amalkan

Bagaikan surat cinta yang di buat dari Allah untuk hambaNya Di dalamnya setiap kehidupan yang pernah terjadi dan yang akan terjadi ada didalamnya, hidupmu akan sempurna jika kau bepergang teguh pada Al-Qur’an.

(Visited 13 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Wa Ode Trinita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *