Breaking News
Home > Cerpen Cinta > Suara-Suara Baju

Suara-Suara Baju

Di jalan itu, orang-orang ramai menemui penjual-penjual baju. Ribuan pasang pakaian bergelayut tersenyum melihat pendatang. Ia menyeringai memancing mereka berhenti untuk manawar. Penjual-penjual berdiri di tepi jalan meneriaki pakaian-pakaian yang di pajang. Mereka bersemangat, memasang wajah yang ceria. Karena sebentar lagi akan lebaran, tentu banyak orang yang sedang mencari pakaian baru, bagus dan murah meriah.

Di sisi lain, berapa onggok sandal dan sepatu juga di pajang. Mayoritas penjualnya adalah lelaki, hampir banyak dengan tukang parkir yang terus sibuk mengatur kendaraan yang berhenti. Hanya kendaraan yang berhenti. Sedangkan di bagian lain jalan sudah terlihat macet kura-kura (motor hanya berjalan perlahan). Mereka memegang uang kertas yang paling tinggi hanya sepuluh ribuan. Selebihnya hanya uang pecahan seribu rupiah, setengahnya lagi recehan. Sebenarnya uang parkir di sana hanya seperti sumbangan, jika tidak diberi juga tidak apa-apa. Namun, jika seseorang yang datang memasang wajah polos dan kecut, maka ia akan ditarif untuk harga parkirnya.

Saat mereka riuh berhenti untuk melihat pakaian yang terus saja setiap malam bergelayut, puing-puing debu beterbangan mengitari permukaan pakaian-pakaian itu. Meskipun begitu, debu adalah nomor kesekian bagi peminat pakaian murah meriah. Pakaian bekas dari luar negeri pun akan terjual habis, jika dihargai murah. Tanpa melihat dampak lainnya; ada bakteri dan kumuh.

                                                                                                ***

Sebuah baju kemeja yang sudah aku lihat beberapa minggu ini membuat ketertarikan lain. Ia seperti mencemoohkanku saat lewat, ia meneriakiku dengan panggilan manusia bodoh. Entah aku yang diteriakkan, entah orang lain. Sebab, setiap malam para pengunjung pasar tepi jalan itu sangat ramai. Aku hampir lupa, di sana adalah pasar atau sekolah dasar. Di sampingnya juga ada semacam markas. Entah markas apa, aku juga tidak terlalu memerhatikannya. Karena mata hanya tertuju pada keramaian.

Mereka saling berdialog satu sama lain, jika ada beberapa pengunjung yang datang. “Lelaki yang memakai baju biru itu pasti memegangku, tapi tidak membawaku pulang.” Sebut sebuah baju kaos oblong. “Dia akan memilihku dari padamu, jika ia melihat ke arahku.” Kata sebuah baju yang sudah tiga minggu aku lihat di bagian depan. Percekcokan itu hampir terjadi setiap malam, barangkali mereka memang memilih untuk dibeli, dari pada bergelayut setiap malam di hanger. Kadang, mereka beruntung mendapatkan alat panjangan yang terbuat dari plastik, jadi tidak akan ada karatan yang membuat mereka berubah warna.

Ada yang sangat tidak nyaman jika di pajang di bagian depan karena terpajang di bagian depan akan membuat mereka menemui banyak hal. Mulai dari asap knalpot motor, sampai banyak kemungkinan lagi. Mereka lebih baik dilipat daripada hanya berdiri tanpa ada yang menyentuhnya. Tidak jarang, mereka menggerutu, jika ada ibu-ibu yang datang, lalu mencemoohkan mereka; baju jelek, norak. Kadang mereka harus mendengar bisikkan yang sangat menjengkelkan “aku diberi baju itu secara gratis juga tidak mau. Warnanya norak, kuno.” Kata seorang pelanggan berbicara pada temannya. “Tidak baik. Kalau tidak suka jangan dikritik seperti itu.” Jawab temannya dengan senyuman.

Di tempat itu sangat banyak senyuman yang bertebaran, mulai dari senyum kebohongan, sampai senyum bahagia menyambut hari indah dengan baju baru. Walau kadang membuat mereka datang tiga kali untuk menukar baju, karena ada bagian baju yang rusak dan tidak muat. Dengan alasan yang beragam, mereka mengembalikannya lagi. Tentu sangat mengesalkan bagi si penjual pakaian tersebut karena barangnya sudah berbau badan, malahan ada juga bagian baju yang rusak oleh mereka. Namun, karena pembeli adalah raja, mereka harus menerima filosofi itu sebagai keharusan.

Aku memerhatikan beberapa perkembangan dari tempat menjual pakaian itu. Yang sangat mendasar adalah semakin banyaknya baju-baju baru dengan harga murah. Barang tiruan yang dibuat dengan kualitas bahan yang berbeda. Lalu, yang selalu bertambah dari suasana tempat menjual barang di sana adalah, semakin banyaknya tukang parkir. Aku pernah menertawakan kejadian ini, meski hanya dalam hati. Dulu sekali, aku juga pernah membeli beberapa pakaian dalam dan baju. Kala itu, aku sangat terpengaruh dengan murahnya barang-barang di sana karena di tempat lain, yaitu toko, sangat jauh beda harganya, walau bentuknya sama. Jadi, aku lebih memilih membelinya di sana dengan harga yang jauh lebih murah.

Namun, semenjak aku mendatangi tempat itu tiga kali, aku mulai bosan. Penyebabnya adalah aku sering diejek secara tidak langsung. “Kamu kenapa menukarkan baju ini terus?” Tanya seorang penjaganya. “Baju ini tidak muat dengan ukuran badanku.” Jawabku. Mereka menelusuri setiap jengkal langkahku, seperti ingin mengusir dan jangan kembali lagi.

                                                                                                ***

Semenjak kejadian itu, aku tidak pernah lagi datang ke sana. Aku masih sering diajak teman yang bekerja sebagai kuli di kota itu. Setiap satu bulan sekali ia akan menerima gaji, dan ia memilih menghabiskan uangnya dengan membeli pakaian dan celana dalam. Sebab, setiap celana dalam yang ia beli, palingan tahan untuk beberapa minggu. Dengan ukuran badannya yang besar, tentu bagian untuk celana dalamnya harus ukuran yang cocok pula. Namun, di toko maupun tempat jual pakain di tepi jalan, barang yang dengan ukuran besar akan jarang ia temui. Maka dari itu, setiap bulan ia harus membeli pakaian dalam lagi dan ia selalu memilih pergi ke sana, karena harganya yang murah dan jika tidak muat dengan ukurannya ia bisa kembali untuk menukarnya.

Di seberang jalan itu ada beberapa toko yang menjual pakaian dan sandal serta sepatu. Kualitasnya juga bagus ketimbang yang dijual oleh mereka yang di tepi jalan itu. Aku tidak sempat memahami, mereka dikenakan biaya untuk berjualan di sana atau tidak. Barang-barang mereka seperti tidak pernah habis dan selalu terbaru. Aku memikirkan banyak hal tentang potret kehidupan seperti ini, meski sering terjadi kemacetan di depan tempat mereka jualan, kenapa tidak pernah ada tindak lanjut dari pemerintah setempat. Atau memang mereka sudah kongsi dengan pemerintah dan pemuda-pemuda di sana, agar tetap aman untuk berjualan. Setiap tahunnya, tempat itu selalu bertambah dengan lapak-lapak baru yang menjual berbagai macam pernik lainnya. Mulai dari kacamata, topi, alas kaki, dan banyak lagi. di sana seperti sebuah bazar. Riuh.

“Ini adalah hidup pedagang.” Kata seorang penjual berbicara padaku saat aku masih mendatangi tempat itu. “Kami di sini haya mencari nafkah, mereka (tukang parkir) kadang juga membuat kami risih. Ada sebagian pendatang tidak suka dengan tukang parkir yang sok jagoan, tampang urakkan. Itu membuat pelanggan kami kadang memilih pergi.” Sambungnya lirih. “Aku salah satu yang bapak sebutkan itu.” Aku pergi dan meninggalkannya dengan dagangan yang belum laku dari pertama buka, malam itu.

Aku juga berpikir, apakah mereka tidak akan rugi jika dagangan mereka tidak laku. Sudah empat tahun aku melihat orang yang berjualan di sana masih itu-itu juga orangnya. Tapi setiap tahun, mereka selalu memiliki anggota baru. Tapi kenapa selalu seorang pria. Apa pria lebih tangguh dari wanita atau mereka tidak memilih wanita karena banyak kemungkinan lain; jatuh hati kepada pelanggang, akan didatangi temannya berharap dapat harga murah. Semuanya harus dipertimbangankan juga, agar kerugian besar tidak diterima Bos yang mengeluarkan uang untuk beli baju.

Baju-baju itu akan membuat dialog, agar mereka tetap bahagia dalam keadaan bergelayut di antara celana-celana jeans. Kemudian tidur dalam koper-koper yang dilipat rapi, lelap di atas mobil-mobil pembawa barang dagangan, kadang kalau larut, mereka akan terdampar bersama becak motor di luar rumah. Diterpa tempias hujan dari selatan. Menggigil dan ketakutan akan tersambar petir. Mereka akan gusar dengan keadaan semacam ini. Tentu mereka akan memilih untuk dibeli. Karena akan dicuci dan dibersihkan juga terkena kotoran atau debu.

                                                                                                ***

Aku tidak akan menceritakan kembali lagi kenangan ketika berkunjung ke sana. Meski hanya menemani temanku yang seorang kuli itu. Sangat menjengkelkan jika harus mengingat itu berulang kali. Aku juga berpikir tidak akan lewat di jalan itu lagi, agar aku tidak menemui kenangan-kenangan semasa di sana. Melihat ribuan pasang pakaian menatapku sinis. Seperti tidak menyukai wajahku yang memandangnya dengan cemoohan dan ejekkan, meski dalam hati, sepertinya mereka mengetahui itu. Ia akan berbicara, menggunjingku bersama celana-celana dalam yang bergambar Super Hero. Mereka akan sangat bahagia, jika sewaktu-waktu aku terjebak dalam kemacetan panjang dan harus berada di jalan tempat mereka bergelayut. Mereka akan menertawaiku. Akan riuh suara-suara desiran angin di telingaku.

“Andaikan orang itu membeli kita, pasti kita akan dijaga sebaik mungkin. Sebab, menurutku dia sangat pemilih untuk setiap barang yang dipakaiannya.” Barangkali mereka memikirkan itu, gumamku. “Ahh.. aku tidak akan membeli kalian. Kalian sering mengejekku sewaktu aku kecelakaan di depan kalian. Kalian hanya memandangiku tanpa membantuku untuk sekedar berdiri.” Dalam hati, aku sangat mencap kalian dengan keburukkan, sejak kejadian itu. Meski sudah lama, aku selalu ingat. Saat aku pulang dari pesta pernikahan teman, walau dalam keadaan duka, aku tetap menghadiri undangan pernikahan darinya. Kalian tahu, wanita itu adalah mantan pacarku. Kami menjalin hubungan selama dua tahun. Ia memarahiku waktu itu hanya karena aku memakai celana dalam yang bergambar Super Hero, yang aku beli di tempat kalian.

Kalian hanya menatapku dengan lengah. Kalian tetap sibuk dengan pelanggan yang hanya memegang dan menawar-nawar kalian. Padahal pelanggan sudah tahu bahwa harga kalian sudah paling murah seantero kota. Aku berdiri dan pura-pura tersenyum. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa denganku aku terluka parah parah waktu itu. Meski tak berdarah. Kecelakaan sepulang melihat pernikahan gadis yang amat aku sayangi dan suaminya adalah teman dekatku sewaktu masih tinggal di sebuah kos-kosan dekat kampus. Aku memilih pindah waktu itu, agar tidak terjadi sesuatu yang mencelakakan ia. Sebab, aku sering gelap mata perihal hati dan perasaan. Apa lagi menyangkut perempuan yang kusayang.

Kalian tidak akan mampu menjawab itu semua, baju-baju. Aku lebih membenci kalian, baju-baju murah yang bergelayut. Kalian lihat, di belakang kalian terdapat sebuah sekolah, lebih baik kalian belajar dulu dari sana, agar dalam otak kalian tidak hanya uang dan uang. Di samping kalian jug ada semacam markas. Belajarlah disiplin dari sana. Kalian hanya berlindung pada daun-daun beringin yang teduh, bersandar pada batang pohon yang kokoh. Kalian takut dengan ketidaknyamanan.

                                                                                                ***

Aku benar menyimpan dendam pada tempat itu. Aku tidak akan mempercayai bahwa yang ada di sana adalah benar-benar manusia. Sebagaimana hakikat manusia adalah berakal dan mempunyai tenggang rasa. “Apa kalian masih ingin melihatku dengan tatapan itu?” Tanyaku dengan emosi. “Kalian sudah tahu bukan, kenapa aku membenci. Jawablah pertanyaaku itu. Kenapa kalian hanya diam?” Sambungku sambil terus merangkak melewati kemacetan.

Aku kira, aku tidak akan menemui kalian lagi dalam waktu yang sangat lama karena sebentar lagi aku akan wisuda. Sudah enam tahun aku tinggal di kota yang tak bernama ini, pandanganku mulai suram jika harus berada lama-lama di kota ini. Isi kota ini dipenuhi otak-otak kotor dan buas. Menghalalkan segala cara untuk uang, uang dan uang. Aku sudah tidak sanggup lari ibuk kosan yang setiap bulan selalu memaksaku untuk segera membayar uang. Menghakimiku dengan perkataan-perkataan kotor. Aku paling tidak suka dibandingkan dengan penghuni lainnya yang selalu tepat waktu saat tanggal pembayaran kos datang.

Pandang, padang, pandang, padang. Aku tidak akan memandang jejeran toko di jalan-jalan lagi. Aku akan mendatangi kampungku, aku akan mengamati kalian dari jauh. Risalah ini jangan kalian sebutkan kepada siapapun, meski ia adalah pembeli yang sangat baik terhadap kalian. Setidaknya aku masih menjaga teman kalian dalam celanaku. Ia masih kupakai, meski sudah ada sedikit sobekkan di bagian belakang. Kadang itu menjadi nyaman sewaktu sebuah hembusan angin yang keluar dari perutku yang mulas. “Aku sangat membenci pria itu.” Kata sebuah celana dalam yang bergelayut ramai dengan temannya. “Kau marah?” Tanyaku tertawa.

Kita telah puluhan kali membuat dialog semacam ini. Aku sebenarnya tidak terlalu membenci kalian yang hanya diam dan mematung di antara keriuhan jalan-jalan kota. Kita hampir sama, terdampar di sebuah kota yang tidak tahu akan dibawa ke mana peradabannya. Kita ibarat katak-katak yang sedang terkurung dalam baskom-baskom berisikan air dan jentik-jentik nyamuk. Kita sudah berusaha keras untuk melompat untuk melewati dinding-dinging yang telah berlumut dan licin. Mungkin kita akan menjadi perpaduan yang sempurna jika bersama. Bagaimana kalau aku membeli kalian, namun di tempat yang berbeda. Kita tidak sedang berdialog atau semacam kongsi yang dilakukan para penjaga dan pembelimu.

Aku tidak sedang menimbang-nimbang untuk membelimu dengan harga yang mahal. Juga tidak akan memborong kalian untuk dapat keluar dari tempat itu. Aku sedang terjebak macet di depan kalian yang terus mematung pada hanger-hanger yang mungkin sudah berkarat dan mulai lapuk. Aku sedang menatap kalian dari berbagai sisi lainnya; penjaga, tukang parkir dan uang hasil menipu yang dipakai di sana. Aku terus bingung, apa yang sedang orang-orang perbuat di sana. Sedangkan di tempat lain yang masih di kota ini, banyak wanita-wanita mengemis bersama anak-anaknya. Kalian tertawa menerima uang, sembringah menatap para pengunjung yang ada.

Aku tidak mau kejadian yang sama  denganku terjadi lagi di depan kalian. Kalian boleh diam, tapi tunjukkanlah simpati kalian. Jangan menangis, sebab menangis hanya akan membuat suasana semakin kacau. Suara isak tangis hanya memberi kesedihan yang pahit, jangan meratap, karena ratapan hanya milik mereka yang lemah. Tertawa saja, karena dunia ini amat lucu. Tarr… aku melihat darah bercucuran. Seorang pria berguling dipermukaan aspal yang dipenuhi daun-daun beringin. Aku menoleh, dan bajuku dipenuhi warna kesumba.  Padang, 29 Juni 2016

(Visited 11 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Arif P Putra

Menulis bukan tentang seberapa kamu terkenal dan mendapatkan hasil materi, tapi tentang bagaimana membuat pembaca bisa menikmati karyamu dan seberapa kamu mampu memberikan pengetahuan yang kamu punya kepada orang lain. Menulis adalah potret kehidupan diri dan lingkungan. Penulis masih melanjutkan perkuliah dengan jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Padang. Karya pernah dimuat dibeberapa media (cetak dan online) lokal-nasional. Tempat Tanggal Lahir: Surantih Pesisir Selatan Sumatera Barat, 25 April 1992 Sekarang masih melanjutkan kuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. “Menulis adalah cara memotret kehidupan sendiri dan lingkungan. Melupakan pekerjaan yang tidak penting. Menulis adalah kebutuhan.” No. Telpon: 082283395331

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *