Breaking News
Home > Cerpen Horor > Tamu Misterius

Tamu Misterius

Tak terasa sudah sekitar lima bulan lebih aku bekerja di penginapan ini. Sebuah penginapan yang berani menamakan dirinya hotel karena pembokingan kamar bisa di lakukan secara online. Tapi aku enggan memangilnya hotel karena kamar dari hotel ini hanya berjumlah empat belas kamar.Dan terbagi menjadi dua lantai.Tujuh kamar berada di lantai pertama yang di tandai dengan kamar B, dan tujuh kamar lagi berada di lantai atas yang di tandai dengan kamar A, hotel tempatku bekerja terletak di pinggir sebuah jalan kecil.Bukan jalan besar, bisa di katakan jalan perkampungan tempat masyarakat menetap. Lalu dengan parkiran kecil yang terletak tepat di depan hotel. Ruang kerjaku atau ruang resepsionis terletak tepat di belakang tempat parkir. Hanya berjarak sekat jendela kaca, yang tujuan agar resepsionis bisa melihat tamu yang datang lalu menyambutnya dengan hangat. Hotel yang hanya terdiri dari dua orang resepsionis dan satu cleaning service yang bekerja mulai dari pukul Sembilan pagi sampai dengan pukul lima sore. Tanpa satpam dan tanpa kamar mandi bagi resepsionis, yang menyebabkan kami karyawan jika ingin kekamar kecil harus menggunakan kamar hotel yang kosong.

Setelah memutuskan untuk mengambil cuti di semester akhir, aku bekerja di hotel ini. Dan aku bekerja sebagai resepsionis. Bekerja selama dua belas jam setiap hari termasuk di hari sabtu dan minggu. Dalam seminggu aku bekerja empat hari di siang hari yang di mulai dari pukul tujuh pagi dan berkhir di pukul tujuh malam, dan tiga harinya aku bekerja di malam hari dimulai dari pukul tujuh malam dan berakhir pukul tujuh pagi. Pekerjaan ku adalah menyambut tamu yang akan menginap di hotel, mendata tamu tersebut lalu menghantarnya sampai kamarnya, serta memastikan tamu benar benar merasa nyaman dan memastikan tidak adanya keluhan dari tamu selama mereka menginap.

Awalnya semua berjalan baik baik saja.Baik ketika aku masuk kerja di siang hari maupun malam hari.Sampai pada suatu malam di pukul delapan malam aku telah bersiap siap hedak pulang.Akan tetapi aku belum boleh pulang, di karenakan rekan kerjaku yang hari ini masuk di malam hari belum juga datang.Sampai pada akhirnya aku melihat dari jendela kaca menuju parkiran datang seorang pria bertubuh kecil dan berambut pendek. Pria itu memarkirkan motor maticnya lalu melepas helmnya, terlihat rambut cepaknya yang ia cat berwarna kuning. Narnia namanya, rekan kerja ku yang hari ini masuk malam. Akupun berdiri dari meja resepsionis dan mengambil helm bersiap untuk pulang.Narnia masuk.

“Sorry ya bro telat. Ada urusan tadi”

“Santai,” sahutku.

“Tamu banyak?” tanya Narnia.

“Sedikit bro, Cuma dua kamar”

“Lah tamunya naik kendaraan apa?, kok parkiran kosong?”

“Naik mobil, dari luar kota.Satu keluarga besar, tapi mesan dua kamar. Tadi siang datang naruh barang abis itu langsung pergi lagi. Ga tau jam berapa datang lagi”

Di selah selah pembicaraan kami tiba tiba hujan turun dengan derasnya. Dengan angin kencang lalu di ikuti lampu yang padam.

“Lah, hujan”.

“Ya udah tidur sini aja dulu. Ya paling enggak sampai hujan reda dan listrik hiduplah”.

Narnia menahan ku untuk pulang. Aku tahu sebenarnya dia bukan khawatir dengan ku tapi memang luar biasa penakutnya Narnia ini.

“Okelah”. Lalu akupun menaruh tas serta helm ku kembali. Lalu duduk di sebuah tempat tidur yang terletak di balik meja resepsionis yang memang di sediakan oleh pemilik hotel untuk tempat rebahan bagi karyawan yang berjaga di malam hari.

Malam itu keadaan malam memang sangat berbeda.Dingin dan gelap mencekam. Di jalanan juga tidak terlihat orang lewat, serta tak terlihat satu orang masyarakatpun yang berkeliaran di depan rumahnya. Mereka seperti hilang di terkam kegelapan.

Akupun lalu berdiri dan membuka laci tempat penyimpanan kunci kamar hotel, dan mengambil acak kunci yang ada di sana. Aku mengambil kunci kamar 3A.yang terletak di lantai atas, dan terletak dekat dengan tangga. Narnia menggenggam tangan ku.

“Mau kemana bro?”

“Mandilah, aku belum mandi sore”

“Ikutlah”

“Terus yang jaga meja resepsionis siapa? Kalo ada tamuterus dia lihat meja resepsionis kosong gimana?”

“Ya udah deh, jangan lama lama ya. Seram!”

“Yaelah takut amat. Hantu itu gak ada.Kalo ada sini suruh gulat sama aing!”

Akupun menusuri kamar demi kamar dan menaiki tangga menuju kamar 3A yang terletak di lantai atas bermodalkan lampu flash dari handphone. Dengan gumam dalam hati ‘coba aja pemilik hotel sediain mesin genset!’.

Ketika aku sampai di atas tepat di depan kamar 3A, aku mendengar dari arah dalam kamar suara orang yang sedang mandi. Suaranya jelas sekali. Dan di tengah tengah suara air yang mengalir deras dari shower dan menimpa lantai kamar mandi tersebut aku mendengar lantunan music acak. Tanpa lirik, hanya suara “hmmmm hmmmm hmmmm” yang bernada nada tak jelas yang di lantunkan seorang wanita. Aku heran, seharusnya tidak ada tamu di kamar ini. Lalu aku menggedor kamar untuk memastikan apakah ada orang di dalam.

Tok tok tok.

“permisi.”

Tok tok tok.

“permisi”.

Tiba tiba semua aktivitas yang terdengar berhenti.Akupun tetap menggedor pintu untuk memastikan.

Tok tok tok.

“permisi”

Tidak ada jawaban sama sekali, lalu aku membuka pintu tersebut. Aku mengarahkan flash dari handphone ku ke setiap penjuru kamar. Mengecek sampai kesudut sudut kamar.Bahkan sampai kamar mandi.Persis seperti dugaanku tidak ada orang. Bahkan di kamar mandi, lantai kamar mandipun tak basah. Jika benar ada orang mandi pasti lantai ini basah. Lalu aku berusaha meyakinka pikiran ku bahwa aku sedang berhalusinasi. ‘mungkin karena di luar hujan jadi aku mendengar seperti suara airnya dari dalam’.’ Lalu suara nyanyiannya?’ ah entahlah mungkin benar aku sedang berhalusinasi. Lalu aku mandi setelah itu.

Selesai mandi aku kembali kemeja resepsionis. Ketika aku sampai di meja resepsionis aku melihat ada Bandia dan Narnia di sana. Bandia adalah seorang pemuda yang tinggal tepat di samping hotel tempatku bekerja. Dia adalah seorang pengangguran. Setiap hari ia datang ke hotel tempatku bekerja sekedar untuk berbincang bincang. Tapi malam ini wajahnya berbeda.Wajahnya seperti sedang ketakutan dengan nafas terengah engah. Ketika aku melihat Narnia juga sama ekspresi dengan mata melotot wajah ketakutan dan nafas yang terengah engah.

“Kenapa kalian?” tanya ku. Mereka diam dengan mata yang makin lebar melotot.

“Woy, kenapa nyet?”

“Bang, lu bisa nyinden?”

“Apaan sih ya enggak lah. Akukan bukan orang jawa. Kenapa emang?”. Tanyaku penasaran.

“Tadi sewaktu mau masuk ke meja resepsionis ini aku dengar dari arah kamar tempat mu mandi. Aku dengar suara perempuan nyinden lengkap dengan suara gamelannya.”

“Ah halu lu. Aku di kamar aja gak dengar apa apa.”

Lalu Bandia membuka payungnya dan pergi.

“Cabut aku, gak bener nih”

“Apa sih, ya udah pergi sana”. Teriakku sembari melihat Bandia pergi meninggalkan ruang resepsionis, menuju parkiran lalu pergi di antara kegelapan.

Aku duduk di tempat tidur yang berada di belakang meja resepsionis. Narnia masih melihat ku.

“Kenapa?’

“Serius bro, yang nyinden siapa?.”

“Nyinden apa? Emang lu denger juga suara sindennya.”

“Sindennya enggak tapi suara gamelannya redup redup aku dengar tapi aku berfikir itu suara hajatan dari jauh”.

“Ia suara hajatan dari jauh itu paling. Udah ga usah di bahas.Tau sendirikan Bandia gimana? Tukang bohong dia” ucapku yang berusaha menenangkan Bandia.

Lalu akupun tertidur.Sebelum aku tertidur aku melihat Narnia duduk di meja resepsionis memainkan gadgetnya sembari menyalakan sebatang rokok.Lalu setelah itu aku tak ingat dan tertidur.

Aku tertidur dan tak menceritakan kejadian yang aku alami ketika hendak mandi tadi.Bahkan aku tak menceritakannya sampai sekarang.Sampai cerita ini di tulis, Narnia tak tahu.

Lalu tiba tiba aku terbangun, aku melihat jam, pukul dua pagi, namun listrik tak kunjung menyala dan hujan tak jua reda.Aku melihat Narnia sudah tertidur pulas tepat disampingku.

Ssst, ssst.

Aku mendengar suara desisan dari arah depan meja resepsionis. Aku menghidupkan flash dari handphoneku mengarahkannya ke tempat suara itu berasal. Ternyata itu adalah suara tamu yang tadi siang memesan kamar, menaruh barang lalu pergi.Mereka tidak membawa kunci kamarnya, tapi menitipkannya ke meja resepsionis.

“Oh udah pulang bang dan kak”, sapa ku.

Tamu itu hanya terdiam.Wajah mereka pucat dan menunduk. Yang membuatku heran kenapa aku merasa tubuh mereka tinggi sekali. Bajunya basah dan banyak noda tanah. Aku juga heran. Tadi siang mereka berlima. Dua orang tua kisaran umur enam puluhan, satu anak kecil dan sepasang suami istri yang mungkin berumur tigapuluhan. Tapi kenapa yang datang hanya sepasang suami istri berumur tigapuluhan ini?. Banyak pertanyaan yang hinggap di kepala ku. Tapi aku tak menanyakannya.Karena itu adalah privasi tamu. Lalu aku membangunkan Narnia.

“Nar. Nar, bangun ada tamu!”. Narnia-pun bangun dan segera memberi kunci lalu menghantarkan tamu tersebut.

Ketika Narnia menghantarkan tamu. Sejenak dari kejauhan aku berusaha melihat dalam kegelapan. Aku melihat tamu tersebut memiliki kaki yang terbalik dan tanpa alas kaki. Kepala sampai pinggangnya normal. Tapi dari pinggang ke bawah itu terbalik seratus delapan puluh derajat. Jadi lututnya mengarah kebelakang lalu tumitnya mengarah kedepan. Mereka berjalan seperti ayam.

‘Ah mungkin aku salah lihat pikirku’. Lalu aku kembali merebahkan tubuhku di tempat tidur. Tak berapa lama Narnia datang.

“Bro lu ngerasa tamunya aneh gak?”

“Iya aneh ya. Kenapa pakaiannya penuh tanah gitu ya?”

“Bertanah gimana? Orang pakaiannya rapi gitu”

“Ih pakaiannya kotor loh Narnia”

“Enggak. Pakainanya bersih dan rapi. Tapi mereka bau banget.”

Disini aku mulai paham. Aku melihat yang Narnia tidak lihat. Tapi Narnia mencium apa yang aku tak cium.

“Bau apa emang?”

“Amis. Amis banget. Kaya darah”

“Ah ngaco lu. Yodah yok tidur lagi”.

Kamipun akhirnya tidur sampai pagi tiba. Aku dan Narnia terbangun karena di bangunkan oleh tiga orang berbadan besar. Tapi listrik tak kunjung menyala. Mungkin karena tadi malam hujan dan anginnya deras, mungkin ada pohon yang tumbang yang menyebabkan litrik padam. Dan itu biasa terjadi.

“Bang kami mau mengambil barang dari tamu yang kemarin memesan dua kamar.” Salah satu pria dari tiga pria tersebut berbicara pada ku.Aku melihat kearah parkiran melalui jendela kaca. Terdapat seorang wanita yang menangis, wanita itu menutup mulutnya menggunakan kerudung hitam. Ia menangis sesegukan dengan seorang pria yang memeluknya berusaha menenangkan wanita tersebut. Lalu dengan sigap Narniapun mengambil kunci kamar dan menyerahkannya ke pria tersebut. Hanya satu kunci kamar. Karena satu kamar lagi sudah masuk ke dalam kamar orangnya pukul dua malam tadi. Sepasang pria dan wanita tersebut. Tapi Narnia tidak mengatakannya ke tiga pria tersebut.

Akupun berdiri dan berjalan menuju parkiran, mengarah ke wanita yang menangis tersebut. Tetapi ketika aku mau sampai ke parkiran, pria yang tadi memeluk wanita tersebut meninggalkan wanita yang menangis tersebut lalu menghampiriku. Lalu berselang tak lama kemudian Narnia juga menghampiriku yang sedang bersama pria tadi. Narnia berbisik ke arahku.

“Kamar tadi malam kosong. Kamarnya juga bersih tak ada orang”.

“Ssst nanti aja kita bahas tunggu mereka pergi” bisikku kembali ke Narnia.

Kami lalu melihat tiga pria tadi mengambil tas dari kamar lalu memindahkannya ke mobil. Lalu pergi.

Sebelum mereka pergi aku menanya ke pria yang tadi menghampiriku.

“Kenapa mas?”

“Oh tamu yang kemarin kesini. Yang mesan dua kamar. Itu kemanakan saya mas. Orang tua yang mereka bawa. Orang tuanya. Itu kakak saya kandung. Mereka pengantin baru. Dan anak kecil yang mereka bawa, itu anak kakak saya yang paling kecil. Kelas enam SD. Mereka tadi malam kecelakaan. Mobilnya masuk jurang”

“Serius mas? Trus gimana?”

“Kemanakan saya yang pengantin baru itu meninggal bersama istrinya, kakak saya, suaminya dan anaknya yang paling kecil masih koma di rumah sakit.”

Nama Penulis : Dtm. Sandi

Nama Blog : dtmsandi.blogspot.com

Nama Facebook : Dtm Sandi

About : Cerita ini berisikan tentang seorang pemuda yang bekerja di salah satu hotel dan kejadian horor yang ia alami selama kerja di hotel tersebut.

(Visited 21 times, 1 visits today)
Ajak teman kamu untuk membaca Cerpen & bantu share ya!

About Dtm Sandi

Check Also

Fermentasi Kadaluwarsa

Malam ini aku terbaring dikasur kamarku menatap langit langit kamar dengan pikiran yang kosong. Kulirik …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *